3 Tempat ini Bakal Dikembangkan Jadi Eko Wisata di Indonesia

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah pusat berupaya mengembangkan eko wisata di Indonesia. Kali ini pemerintah mengusulkan tiga tempat agar masuk dalam program cagar biosfer yang bekerja sama dengan UNESCO.

Tiga tempat yang diusulkan yaitu Berbak Sembilang di Sumsel, Danau Sentanu di Riau, dan Rinjani di Lombok. Tempat teesebut dinilai sangat berpotensi untuk masuk cagar biosfer dan dijadikan eko wisata.

“Pengusulan ini telah dilakukan sejak September lalu,” kata Direkur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno usai rapat koordinasi Internasional Manusia dan Biosfer UNESCO di Palembang. Selasa (24/7).

Dikatakannya, nantinya ketiga tempat ini akan dikembangkan agar mampu memberikan penghasilan kepada masyarakat setempat tanpa harus merusak hutan dan lain sebagainya.

Namun, untuk pengembangan ini membutuhkan kerjasama seluruh pihak seperti pemerintah daerah, SKPD dan unsur lainnya termasuk masyarakat.

“Butuh waktu 3-5 tahun untuk mengubah mindset masyarakat agar tidak merusak hutan,” terangnya.

Karena itu, nantinya setiap desa yang berdekatan dengan cagar budaya biosfere ini akan diberikan pendampingan agar dapat mengembangkan desanya.

Untuk tahap awal, pihaknya akan bertemu dahulu dengan desa di sekitar cagar budaya biosfere untuk mengetahui potensi di daerah tersebut.

Jika telah mengetahui potensinya maka akan dilihat akses jalan dan transportasinya. “Jika belum baik maka kami dapat mengusulkan bantuan ke Pemerintah pusat,” ujarnya.

Seperti contoh Desa Wisata Kalibiru yang merupakan hutan wisata. Desa tersebut dalam satu tahun mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp 6 miliar.

Namun, memang pengembangan di desa tersebut sudah sangat lama. Tapi, pihaknya optimisi desa di tiga tempat ini mampu mengikuti jejak desa tersebut. Meski hanya skala kecil.

“Kami belum dapat memprediksinya karena harus dihitung semuanya,” ujarnya.

Jika nantinya, ketiga tempat ini sukses dalam pengembangan desa sekitar maka pihaknya akan mengusulkan kembali tempat untuk dijadikan cagar biosfer.

Setiap cagar budaya biosfere ini akan dievaluasi setiap 10 tahun sekali. Namun, sejauh ini pengembangan dari 11 cagar biosfer dinilai berhasil.

“Kami harap pengembangan dari tiga tempat ini berhasil dan mampu meningkatkan kesejahteraan desa sekitar,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Kepala LIPI, Prof Bambang Subianto menambahkan pengembangan desa ini yang paling terpenting yakni harus tetap menjaga kelestarian dari tiga tempat tersebut. Mengingat banyaknya isu lingkungan yang terjadi saat ini.

“Kami akan berupaya mengimplementasikan setiap pengetahuan dalam program ini. Kami minta juga dukungan dari perguruan tinggi dan dukungan dari kementrian,” singkatnya. (lim/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...