Duh! Angka Anak Kesandung Hukum Masih Sangat Tinggi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) masih tinggi. Peran orang tua dan pendamping anak kembali menjadi sorotan.

Hal ini diungkap Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto saat memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli. Pada semester pertama 2018, ujarnya, terdapat 1.885 kasus pelanggaran hak-hak anak.

Dari jumlah tersebut, ada 504 kasus ABH, kasus keluarga dan pengasuhan alternatif atau anak yang orang­tuanya bercerai sebanyak 325 kasus, hingga kasus pornografi dan cyber crime dengan 255 kasus.

Pada kasus ABH, anak-anak menjadi pelaku narkoba, mencuri, hingga perbuatan asusila. “Dari data tahun 2011 sampai saat ini, ABH menempati posisi paling tinggi. Kemudian keluarga dan pengasuhan alternatif,” katanya, di Jakarta.

Kebanyakan anak yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) disebabkan kasus pencurian sebanyak 23,9 persen. Selanjutnya, kasus narkoba 17,8 persen, kasus asusila 13,2 persen dan lainnya. Dalam kasus ini, KPAI menyoroti pola asuh ABH. KPAI menilai ada kesalahan pengawasan orang tua terhadap anaknya.

Susanto juga mengutip lembaga KidsRights Foundation yang melakukan penelitian kepada 165 negara untuk mengetahui tingkat pemenuhan hak anak. Indeks perlindungan hak anak, Indonesia berada di 141 dari 165 negara. Indonesia masih berada di bawah beberapa negara tetangga. “Kita masih berada di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand,” sebutnya.

Komisioner KPAI bidang ABH, Putu Elvina menilai, minimnya aktivitas orang tua dengan anak menjadi kelemahan dalam pengawasan sehari-hari. “Misalkan saat bersama anak di ruang makan, orang tua bisa bertanya anak tentang aktivitasnya,” katanya.

Ada beberapa faktor penyebab anak melakukan kejahatan. Salah satunya faktor kesempatan. “Mereka awalnya nggak ada niat. Kedua lingkungan, ketiga ada niat. Itu alasan anak lakukan kejahatan,”  ungkapnya.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengungkapkan, saat ini anak laki-laki rentan menjadi korban kekerasan seksual. “Kalau sebelumnya anak perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan seksual, maka tahun 2018 anak laki-laki lebih rentan menjadi korban,” ujarnya.

KPAI mencatat sejumlah peristiwa kekerasan seksual terhadap anak. Mulai dari kekerasan seksual terhadap siswa laki-laki oleh oknum guru di sebuah SMP di Jakarta yang menimbulkan korban 16 siswa, di Kabupaten Tangerang ada sebanyak 41 siswa yang jadi korban, di Kota Surabaya sebanyak 65 siswa, dan di Depok sebanyak 12 siswa.

Sementara, siswi perempuan yang menjadi korban, terdapat di salah satu SMP di Jombang, Jawa Timur, yang memiliki korban sebanyak 25 siswi, dan sebuah pesantren di Bandung Barat sebanyak tujuh siswi.

“Data tersebut menunjukkan anak laki-laki lebih banyak menjadi korban kekerasan seksual oleh oknum guru,” terangnya.

Hal itu juga menandakan masih banyak kasus kekerasan yang dialami oleh anak di lingkungan pendidikan, seperti kekerasan seksual, fisik ,dan psikis yang dilakukan oleh pendidik, ataupun sesama siswa di sekolah.

Retno menambahkan, banyak laporan kekerasan fisik berasal dari siswa di jenjang SD dan SMA. “Adapun laporan kekerasan seksual yang dilakukan pendidik terhadap peserta didik terbanyak terjadi di jenjang SD dan SMP,” imbuhnya. (rmol)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...