Duh… Enam Bulan, 1.538 Wanita Jadi Janda

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, TULUNGAGUNG – Faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap keharmonisan berumah tangga. Jika ekonomi mawut, kemungkinan besar rumah tangga juga bubar. Paling tidak, itu dibisa dibuktikan dengan tingginya angka perceraian di Pengadilan Agama (PA) Tulungagung.  Berdasarkan data di PA Tulungagung selama satu semester ini, jumlah perkara yang diputus sebanyak 1.538 atau “menelorkan” 1.538 janda. Sebagian besar karena faktor ekonomi.

Humas PA Tulungagung Tamat Zaifudin saat dikonfirmasi kemarin (24/7) mengatakan, setiap hari PA menangani rata-rata 20 sidang, yang terbagi dalam tiga ruang sidang yang disediakan. Dengan hari operasi hingga Senin sampai Jumat.

“Setiap hari pasti ada yang mengajukan perceraian dan setiap hari juga terjadwal sidang,” jelasnya.

Dia mengaku, dalam satu bulan rata-rata perkara yang masuk sekitar 260 kasus. Dengan begitu, data perkara yang diterima Januari sampai Juni sebanyak 1.620 perkara. Jumlah perkara yang masuk akan berbeda dengan jumlah perkara diputus.

“Ini perkara yang diterima dalam enam bulan terakhir, yakni sebanyak 1.620. Kalau Juli datanya belum masuk karena belum akhir bulan,” jelasnya.

Pria ramah tersebut mengaku, perkara yang diputus oleh PA selama enam bulan ini sebanyak 1.538 perkara. Hal itu mengalami penurunan sebanyak 82 perkara jika dibanding dengan perkara yang masuk.

“Ya yang jelas tidak semua perkara yang masuk itu semua diputuskan. Ada yang ditolak, tidak diterima atau yang lain,” ujarnya.

Menurut dia, perkara perceraian itu didominasi dengan cerai gugat atau yang mengajukan cerai oleh istri kepada suami, yakni sekitar 957 selama enam bulan ini. Sedangkan cerai talak atau yang menggugat dari suami, selama enam bulan ini sebanyak 401 kasus.

“Kalau berdasarkan dengan data yang ada, memang yang paling banyak itu istri yang cerai gugat kepada suami,” katanya.

Ternyata berdasarkan data yang masuk di PA, penyebab perceraian didominasi faktor perekonomian, yakni sekitar 700 kasus untuk enam bulan ini. Penyebab kedua, didominasi meninggalkan salah satu pihak atau tidak bertanggung jawab, sebanyak 328 kasus.

“Hingga enam bulan terakhir ini, kebanyakan yang mendominasi penyebabnya faktor ekonomi dan meninggalkan salah satu pihak,” ujarnya.

Pria berkulit putih tersebut mengatakan, latar belakang pelaku perceraian terdiri atas berbagai pihak. Mulai dari buruh, pengangguran, hingga pegawai negeri sipil (PNS).

“Kalau siapa saja yang melakukan, yang jelas semua lengkap. Kalau dari pekerja, kebanyakan dari TKI. Itu dipicu adanya tidak menerima salah satu pihak. Selain itu, kalau untuk PNS, kebanyakan karena faktor perselingkuhan,” ujarnya.

Dia mengaku, rata-rata pelaku perceraian tersebut didominasi usia produktif, yakni sekitar 25 hingga 40 tahun. Selain itu, juga ada yang berusia 18 tahun, bahkan juga ada yang berusia 60 lebih melakukan perceraian.

“Kalau umurnya kebanyakan usia produktif, tapi ada juga yang baru nikah, bahkan kakek nenek juga ada,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk data 2017, perkara yang diputus oleh PA sebanyak 3.338 kasus, dengan jumlah perkara yang diterima sebanyak 3.525 kasus.

“Kalau yang dulu, selama satu tahun yang diputus sebanyak 3.338,” ujarnya. (rt/lai/ang/JPR/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...