Novel Baswedan: Saya Ingin Move On Untuk Berjuang Kembali

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Hampir 16 bulan sejak tragedi penyiraman air keras yang menimpanya pada 11 April 2017, penyidik senior KPK Novel Baswedan tak bisa bekerja karena harus menjalani pengobatan di sebuah RS di Singapura.

Kini, usai menjalani operasi mata dan pengobatan rutin, kondisi suami Rina Emilda ini berangsur pulih. Meskipun kondisi matanya belum sembuh total, namun Novel memaksakan diri agar bisa kembali bekerja memberantas korupsi di negeri ini.

Rencananya, mantan Kasatgas kasus korupsi e-KTP ini akan kembali ke K4, sebutan bagi Gedung Merah Putih KPK pada Jumat (27/7) mendatang. Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan Novel saat pertama kali bekerja nanti, berikut petikan wawancara antara mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut di kediamannya, Minggu (22/7) kemarin.

 

Kegiatan apa yang akan Anda kerjakan di hari pertama kerja nanti?

Jadi setelah sekian lama saya sakit, saya sebetulnya belum pulih sepenuhnya. Tetapi saya harus mencoba untuk memulai masuk kerja. Saya juga bisa mengetahui kendala-kendala kesehatan saya apa, meskipun saya sudah tahu, tapi untuk memastikan lebih jauh.

Apa yang akan saya lakukan setelah saya masuk?

Yang pertama tentunya saya masih penyidik, saya penyidik KPK, saya Kasatgas, saya akan menginventarisir masalah-masalah satgas saya, tanggung jawab perkara yang belum terselesaikan, dan kemudian mekanisme kinerja di Satgas tentunya akan saya perbaiki. Dengan harapan bisa berjalan lebih optimal ke depan.

Yang kedua tidak kalah penting tentunya, saya akan bicara dengan teman-teman di KPK untuk saling menguatkan, dan agar semua pegawai di KPK bisa melakukan tugas-tugasnya, melakukan tanggung jawabnya dengan bertambah semangat dan ini perlu komunikasi. Perlu saling menasihati, perlu saling menguatkan, ini yang akan saya lakukan. Intinya, komunikasi yang paling mungkin adalah dengan wadah pegawai, dengan kawan-kawan lain tentunya akan saya komunikasi.

 

Terus memperbaiki Kasatgas, kalau menurut Anda seperti apa?

Jadi begini, yang saya lakukan adalah di porsi saya. Saya Kasatgas mekanisme kerja di satgas tentu akan diperbaiki, satgas saya ya. Siapa tahu apabila pola kerjanya bisa lebih baik, bisa menjadi contoh buat satgas lain.

 

Apakah ada perkara yang sudah disiapkan oleh tim satgas ketika Anda masuk?

Belum ada yang fokus ke satu perkara. Tentunya saya justru  akan menginventarisir di satgas yang saya tinggalkan dalam beberapa waktu saya sakit yang belum selesai, yang belum tuntas, atau perkara yang ada kendala tentunya itu yang akan saya jadikan prioritas untuk saya selesaikan.

 

Kondisi mata, kondisi fisik secara umum sudah siap untuk melakukan aktivitas berat?

Fisik siap, mata mohon didoakan. Terus terang mata saya memang belum bisa membaca sepenuhnya. Mata kiri nantinya yang akan jadi tumpuan untuk membaca, tetapi mata kiri saya ini masih perlu beberapa kali operasi ringan. Tentunya saya masih harus bolak balik untuk proses pengobatan. Terlepas dari  itu semua, dengan segala kekurangan dioptimalkan untuk bisa bekerja sebaik mungkin dan sekuat mungkin.

 

Apa yang mendorong Anda bekerja kembali ke KPK meskipun kondisi masih seperti ini?

Tentunya kita semua punya harapan yang sama terhadap KPK. Kita  ingin KPK semakin kuat, semakin hebat. Saya punya kesempatan, setidak-tidaknya saya masih pegawai KPK. Kesempatan  itu yang saya gunakan untuk mengajak, untuk memberikan semangat kawan-kawan yang lain, untuk ikut turut bekerja bersama kawan-kawan yang lain, untuk bisa menjaga, mendorong integritas. Ini hal yang harus terus menurut dijaga, dikuatkan. Bagi saya ini prioritas penting yang pantas, sepadan untuk dilakukan dengan segala risiko.

 

Terkait perkara Anda yang belum selesai, ketika Anda masuk ke KPK, apakah ini menjadi prioritas untuk didiskusikan bersama pegawai KPK lain?

Saya tahu banyak pegawai KPK yang melakukan advokasi untuk saya, melakukan dukungan kepada saya, walaupun saya tidak mendengar pimpinan (KPK) melakukan itu. Artinya kalau pegawai KPK melakukan, saya tahu. Selama ini dikoordinir oleh wadah pegawai. Pimpinan saya nggak mendengar, apakah melakukan atau tidak saya nggak tahu, karena saya nggak mendengar.

Saya pernah bilang bahwa saya sudah memaafkan pelakunya. Saya ikhlas dengan kejadian ini semua, karena saya tidak mau diri saya terus berkutat dengan masalah penyerangan itu. Saya ingin kalau orang zaman now bilang move on ya, untuk berjuang kembali.

Oleh karena itu menjadi penting untuk saya tidak terus berkutat pada penyerangan itu. Tetapi untuk terus menyuarakan penyerangan ini diungkap, bagi saya sama pentingnya dengan memberantas korupsi sendiri.

Oleh karena itu, saya akan menuntut terutama kepada bapak presiden yang sudah berjanji untuk mengungkap ini, memerintahkan jajarannya. Presiden punya BIN yang Kepala BIN nya Jenderal Polisi sudah purnawirawan sekarang ya, tapi beliau pastinya punya kemampuan.

Punya Kapolri, punya perangkat lain, yang itu semua mesti bisa digunakan. Bapak presiden mestinya terganggu ada hal begini tidak diungkap. Saya pernah menyampaikan bahwa ini bukan kejadian biasa, kenapa tidak biasa, karena ada dugaan dan keyakinan kuat bahwa beberapa pejabat polisi yang punya kepentingan dalam rangka penegakan hukum itu terlibat dalam penyerangan ini.

Sehingga ketika ada segelintir orang yang mengasumsikan hal ini selesai dengan mekanisme biasa, dia sedang berkhayal rasanya. Ini diselesaikan dengan mekanisme yang sungguh-sungguh, dengan mekanisme luar biasa.  Jadi ketika dianggap ini selesai dengan mekanisme biasa, ini orang sedang mengkhayal rasanya, nggak mungkin. Karena orang- orang yang terlibat tentu akan menghalangi , logikanya begitu.

 

Anda konsisten kasus penyerangan Anda tidak akan diungkap?

Iya saya konsisten berpandangan bahwa polisi tidak akan ungkap ini. Sejak awal saya sampaikan itu, dan bapak presiden pernah berjanji akan membentuk tim. Apakah tim itu Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atau bukan saya nggak tahu. Kenapa ini tetap harus disuarakan, karena kalau penyerangan ini tidak diungkap, akibatnya adalah orang-orang bisa jadi semakin takut.

Karena penyerangan menjadi semakin riskan dan pelaku penyerangan semakin berani untuk menyerang. Saya akan tunjukkan, saya diserang apapun tidak akan takut dan saya akan tetap melakukan apa yang mesti saya lakukan. Tetapi pola-pola pembiaran itu suatu hal yang tidak boleh dibiarkan. Oleh karena itu saya akan sampaikan terus. Saya prihatin dengan orang-orang yang membiarkan.

Mestinya presiden tidak boleh dikekang atau takut dengan kelompok-kelompok yang tidak baik. Presiden adalah anak indonesia, presiden saya juga dan saya berharap bapak presiden memposisikan dirinya sebagai presiden. Betul-betul mewakili semua kepentingan bangsa dan betul-betul mau menegakan hukum dan keadilan dengan sungguh-sungguh.

 

Ada kekhawatiran nggak kasus Anda jadi komoditas politik, ketika presiden atau lawan politiknya masuk dalam ranah pilpres yang akan berlangsung sebentar lagi?

Memang yang pertama banyak yang bilang begitu. Bisa jadi kemudian diungkap untuk kepentingan politik. Hanya diungkap aktor lapangannya saja. Bagi saya kalau ada orang yang melakukan itu keterlaluan.

Begitu juga ada juga mungkin lawan politik bapak presiden akan melakukan itu, menggunakan kasus ini untuk menyerang presiden, menurut saya nggak pas juga. Menurut saya jangan kemudian ketika ada politisi atau siapapun mau menyuarakan kebenaran, walaupun kalau baru ngomong sekarang itu agak telat atau kesiangan. Tapi masih oke lah daripada nggak menyuarakan. Saya lebih memandang begitu.

Mestinya agar bapak presiden tidak terjadi, serangan-serangan kepentingan politik, ya hal ini diselesaikan gitu. Jangan kemudian ketika ada orang yang menyalahkan sebagai masalah politik, nah ini yang salah. Kalau suatu saat nanti dipakai orang menurut saya salahnya sendiri. (wnd/tyo/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...