Rencana Penutupan Lokalisasi, Walikota: Sulit Kita Ucapkan


FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Sejumlah lokalisasi di Tarakan akan segera ditutup. Sesuai dengan perintah dari Pemerintah Provinsi Kaltara agar pada 2019, Tarakan bebas prostitusi.

Wali Kota Tarakan Sofian Raga mengatakan mengenai penutupan tempat prostitusi tersebut dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dilakukan sekaligus. Sebab ada tahap-tahap yang harus diselesaikan.

“Kita tidak bisa instan tentang itu. Untuk persentasenya sulit kita ucapkan,” singkatnya.

Kepala Bidang Sosial pada Dinas Sosial (Dissos) Tarakan Eko P Santoso mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat dengan berbagai institusi dan pihak terkait untuk bisa menutup prostitusi di Bumi Paguntaka

Prinsipnya ujar Eko, Pemkot Tarakan akan tetap menjaga komitmen untuk tetap melakukan dan mengamankan kebijakan yang telah diperintahkan oleh gubernur.

“Langkah selanjutnya lagi kita persiapkan tim. Mudah-mudahan dalam waktu dekat keluar dan tim terbentuk. Setelah itu kita dapat melaksanakan tugas masing-masing, semoga semua berjalan dengan lancar,” ungkapnya. (21/7)

Eko melanjutkan, ia berharap pula dalam waktu dekat surat keputusan terhadap tim untuk menutup lokalisasi segera terbit.

Dengan begitu, pihaknya dalam menjalankan tugasnya dengan baik karena telah dipayungi oleh hukum. “Sekali lagi mudah-mudahan ini dapat menjadi dasar kebijakan untuk melaksanakan langkah yang lebih konkret untuk semua stakeholder yang terlibat,” ungkapnya.

Terkait rencana penutupan lokalisasi itu, sejumlah penghuni yang bekerja dan mencari nafkah di tempat tersebut pun menjadi risau.

Sebagian dari mereka telah menghubungi keluarga untuk merencanakan pulang kampung dan mencari pekerjaan baru.

Seperti yang dirasakan oleh Memey (bukan nama sebenarnya) yang mengaku gelisah atas rencana penutupan lokalisasi. Perempuan 32 tahun asal Bandung, Jawa Barat itu menjelaskan sudah mengetahui berita tersebut dari awal tahun ini.

“Lumayan gelisah, karena ini mata pencaharian kita untuk mengirimkan ke keluarga juga. Mau tidak mau suka tidak suka ya terima saja,” ungkapnya.

Memey juga mendengar adanya program pembinaan sebelum dipulangkan. Menanggapi itu, ia berharap hal tersebut dapat berjalan. Agar kemampuannya tersebut dapat dimanfaatkan di kampung halaman.

“Semoga bisa berguna, rencana saya nanti akan pulang jika memang ditutup dalam waktu yang dekat ini. Karena sudah 8 tahun di Tarakan,” tutupnya. (*/ade/rio)

Komentar

Loading...