Elegi Nenek Mustika, Guru Ngaji yang Tinggal di Gubuk Reyot

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BANJARMASIN – Kerudung merah muda kusam menutupi rambut Nenek Mustika yang sudah memutih. Kulitnya keriput dimakan usia. “Saya hanya tinggal berdua dengan anak pertama saya,” tutur Mustika kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) kemarin (26/7).

Di usia yang tak lagi muda, Mustika tetap dituntut bekerja. Pasalnya, anak yang tinggal bersamanya itu, M. Ihsan, 46, mengalami keterbelakangan mental. Anak satunya lagi, Khadijah, 44, meninggal beberapa tahun silam.

Nenek Mustika menggantungkan hidup dari mengajar ngaji anak-anak dan orang tua. Hasilnya tidak menentu. Dia tidak pernah memasang tarif pasti. Namun, sudah beberapa bulan terakhir ini dia terpaksa berhenti sementara.

Kehidupan perempuan sepuh itu jauh dari kata cukup. Rumahnya di Jalan Veteran, Kompleks A. Yani I, RT 17, bisa membuat orang yang melihat mengelus dada. Bangunannya miring, bahkan hampir ambruk. Hanya ada beberapa bilah tongkat yang dijadikan penopang supaya tidak roboh.

Atap rumah bocor. Dinding papan lapuk dan sebagian besar sudah bolong-bolong. Kondisi itu sudah berlangsung sekitar empat tahun terakhir.

“Pasti waswas. Tapi, mau bagaimana lagi? Tidak ada biaya untuk memperbaiki. Ya terpaksa seadanya,” tuturnya.

Saat musim kemarau seperti ini, kondisi masih mending. Namun, kalau musim hujan, dia harus mripit-mripit berteduh di bagian rumah yang atapnya masih utuh. Apalagi, kalau air sedang pasang, lantai rumahnya bisa tergenang. “Kalau hujan, saya tidur di kamar. Ihsan di ruang depan. Sebab, atap di kamar dan ruang depan masih utuh,” ujarnya.

“Rencananya, masyarakat di kompleks sini swadaya untuk membantu,” kata Nanang Fai, suami Salbiah, ketua RT 17. (endang/gmp/ay/ran/c5/ami/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...