Rampok Sadis, Sudah Tembak Wajah Diver Lalu Dipukul Sampai Tewas

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Sadis dan sungguh tak manusiawi. Kalimat itulah yang bisa menggambarkan bagaimana pembunuhan yang dilakukan Darmadi alias Anca terhadap seorang driver online, Handarri. Kemarin (25/7), polres menggelar rekonstruksi pembunuhan yang berlangsung di Jalan Prona III, RT 53, Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan, 12 Juni lalu. Total ada 62 adegan yang diperagakan.

Seyogianya, reka ulang akan dilaksanakan di tempat kejadian perkara (TKP). Namun, karena pertimbangan keamanan, akhirnya dipindah ke halaman Mapolres Balikpapan. Reka ulang dipimpin Kasat Reskrim Polres Balikpapan, AKP Makhfud Hidayat.

“Demi keamanan, kami lakukan rekonstruksi di mapolres. Kami juga sudah koordinasi dengan kejaksaan,” kata Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Fitra di sela-sela rekonstruksi.

Tersangka Darmadi alias Anca yang mengenakan baju tahanan berwarna oranye memeragakan kejadian saat dia menghabisi nyawa korbannya. Tak banyak bicara. Tatapannya dingin dan kosong, sementara bola matanya memerah. Dia menjalankan setiap instruksi yang diberikan penyidik Polres Balikpapan.

“Total ada 62 adegan yang dilaksanakan mulai dari permulaan sampai pelarian tersangka,” ungkap Kapolres.

Pada adegan ke-11, Anca menodongkan airsoft gun miliknya dari dalam mobil ke kepala korban, setelah Handarri mengeluarkan perkataan yang menyakiti hati. Anca memuntahkan lima kali tembakan. Sang driver hilang kendali, sehingga Daihatsu Ayla KT 1713 ZS yang dikemudikannya menabrak gundukan tanah di pinggir jalan.

Saat mobil berhenti, Handarri masih mampu menyelamatkan diri dengan keluar dari mobil. Anca mengejarnya dan lagi-lagi memuntahkan peluru airsoft gun sampai korbannya tersungkur ke tanah.

“Dia (Anca, Red) menembak korban lagi, tepat mengenai muka pada adegan ke-18,” tutur Makhfud Hidayat.

Kendati bertubi-tubi ditembak, Handarri masih bernapas. Melihat korbannya dalam kondisi sekarat, Anca bukannya iba. Pemuda bertubuh pendek ini mengambil dongkrak lantas menghantamkannya sekuat tenaga ke bagian tengkuk kepala. Di adegan ke-27, Handarri akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

“Setelah tewas, korban diseret tersangka masuk jauh lebih ke dalam menuju semak-semak,” beber Kasat Reskrim.

Dari 62 adegan, soal motif pembunuhan tidak ada perubahan. Hanya saja ada fakta baru yang didapat, yakni pelaku terbukti mencuri handphone korban. Sehingga pelaku dijerat pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan.  “Minimal hukumannya lima tahun penjara,” tandas Makhfud.

Selain pasal 365, dia menambahkan, pelaku juga dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Dijelaskannya, rekonstruksi merupakan salah satu cara mengungkapkan fakta-fakta baru. Baik dari keterangan saksi maupun korban. “Dan terbukti ada fakta baru didapat. Saat ini kami masih melengkapi berkas perkara, baru koordinasi dengan kejaksaan. Kalau mereka nyatakan lengkap, baru barang bukti beserta tersangka dikirim,” tandas dia.

Mengapa Anca sampai tega membunuh pelaku? Saat diinterogasi, Anca mengatakan, tindakan sadisnya itu hanyalah spontanitas lantaran tersinggung dan dirinya tidak mengenal korban.

Anca sakit hati dengan perkataan korban, “Kamu mau bayar cuman segitu, maunya enak-enak. Kalau mau enak naik helikopter saja,” kata Anca menirukan kalimat korban.

Handarri sendiri bukan tanpa alasan melampiaskan emosinya dengan perkataan yang menyinggung. Anca order taksi online di Prapatan dan minta diantar ke rumah rekannya di Jalan Prona III, arah TPU Sepinggan. Rumah sobat yang hendak dituju bernama Amros. Jalanan yang dilewati rusak, sementara sudah hampir sampai barulah Anca mengaku duitnya tidak cukup.  (ham/yud/k1)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...