Soal Wanita Nyemplung ke Sungai, Keluarga Korban: Pamitnya Beli Nasi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BADUNG – Ni Luh Mayani, 44, warga Banjar Dinas Pengubugan, Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, nekat bunuh diri dengan cara melompat dari Jembatan Tukad Bangkung di Pelaga, Badung. Begini cerita keluarganya.

Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Ni Luh Mayani, 44 sampai di rumah duka, Banjar Dinas Pengubugan, Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Jumat (27/7) sekitar pukul 18.00 Wita. Jenazah Mayani diantar langsung ke rumah duka menggunakan mobil Ambulance yang dikawal oleh petugas dari BPBD Badung.

“Luh..sing ade gati jalan len luh? Ape pelih akene luh, be mekejang gati tuutang (Luh..tidak ada jalan lain? Apa salahku, sudah semua dipenuhi permintaannya),” teriak Gede Suardana sembari menangis histeris di kaki almarhum istrinya.

Kepergian sang istri tercinta membawa duka mendalam bagi Suardana. Bagaimana tidak, Jumat pagi (27/7) merupakan hari terakhir dirinya melihat sang istri sebelum meninggal bunuh diri secara tragis dengan terjun dari ketinggian di Jembatan Tukad Bangkung, Pelaga, Kabupaten Badung.

Seperti diungkapkan putra sulung korban, Gede Agus Perdana, dari penjelasan ayahnya, sang ibu pada Jumat pagi, sekira pukul 07.00 Wita pamit pergi ke Pasar Tamblang. Konon, korban hendak membeli nasi dengan mengendarai sepeda motor.

Namun hingga pukul 10.00 Wita, korban juga tak kunjung pulang ke rumah. Selanjutnya, Agus Perdana pun diminta oleh ayahnya untuk mencari ibunya ke pasar. “Sempat saya cari ke pasar, ke rumah tetangga. Tetapi tidak ada,” akunya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Rupanya, sekitar pukul 14.00 Wita, Agus Perdana mendapat kabar buruk dari media sosial. Terungkap, sang ibu yang ia cari-cari beberapa jam terakhir dikabarkan terjun dari Jembatan Tukad Bangkung, Pelaga, Badung. ”Ternyata setelah diperlihatkan KTP-nya di FB, memang itu Ibu saya,” singkatnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia pun tak tahu pasti mengapa sang Ibu nekat mengambil jalan pintas seperti itu. Apalagi selama ini, tidak pernah ada persoalan di internal keluarganya. Baik antara Ibu dengan Ayahnya, atau dengan dirinya maupun sang adik, Kadek Dwiguna yang saat ini duduk di bangku kuliah.

Agus Perdana pun mengaku tak memiliki firasat maupun mimpi apa pun sebelum kematian sang ibu. Sebab, selama ini almarhum menunjukkan sikap yang normal saja. Bahkan Agus menyebut tak jarang ibunya memomong anaknya yang tak lain adalah cucu pertamanya.

“Yang jelas tidak pernah ada masalah keluarga. Memang selama ini saya tinggal berpisah dengan orang tua, karena sudah berkeluarga. Masalah ekonomi juga tidak. Tetapi ibu memang sempat mengeluh sakit. Sakitnya tidak jelas. Mulai gatal-gatal, kadang ada bentol-bentol di badan sebesar kelereng,” akunya.

Setelah mendapat kabar duka tersebut, beberapa keluarga korban langsung meluncur ke TKP. Bahkan, sepupu korban, Made Sumarka, 55 mengaku sempat dimintai keterangan oleh anggota Mapolsek Petang. Tujuannya untuk mengorek informasi seputar kondisi rumah tangga korban selama ini.

“Memang selama ini almarhum tidak memiliki masalah. Secara ekonomi juga cukup mapan. Ya kalau terkait kondisi kesehatan, memang beliau sedang sakit,” beber Sumarka.

Dari hasil pemeriksaan medis oleh Puskesmas Petang, Sumarka menyebut jika kondisi almarhum menderita luka serius pasca terjun dari jembatan. Korban mengalami luka robek yang cukup parah pada bagian pinggulnya.“Sempat ditawari otopsi oleh tim medis. Tetapi keluarga memilih untuk langsung dibawa ke rumah duka” imbuhnya.

Lalu kapan almarhum dimakamkan? Sumarka pun mengaku sedang merundingkan dengan pihak keluarga besar. Namun mengingat korban meninggal lantaran ulah pati (bunuh diri, red) besar kemungkinannya almarhum Mayani dimakamkan pada malam itu juga (kemarin, Red).

“Karena memang adatnya di disi seperti itu. kalau ada yang meninggal ulah pati biasanya langsung dimakamkan. Namanya mekinsan di pertiwi. Selain itu karena kondisi almarhum juga menderita luka,” tutupnya.  (bx/dik/yes/JPR/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...