Hari Jadi Kota Kediri, Uri-Uri Budaya Larung Sesaji

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, KEDIRI – Larung sesaji dan labuh bumi digelar di bantaran Sungai Brantas, kemarin. Tepatnya di barat Taman Brantas, sekitar pukul 15.00. Acara yang merupakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri untuk uri-uri budaya ini merupakan agenda rutin tahunan.

Sejak pukul 13.00 suara gamelan jaranan telah ditabuh. Kegiatan diawali dengan pementasan seni tari jaranan dan barongan di sisi selatan, bawah Jembatan Brawijaya. Lalu dilanjutkan pergelaran Tumpeng Robyong.

Subagio, budayawan Kediri, menjelaskan, Tumpeng Robyong merupakan wujud dari pemerintahan yang didukung masyarakat. “Itu seperti prodamas (program pemberdayaan masyarakat) yang telah dilakukan, mendapat dukungan masyarakat,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Dia juga mengungkapkan, isi tumpeng tersebut adalah sekul suci ulam sari yang terdiri dari nasi, ikan, dan sayuran. Ini wujud syukur atas rezeki yang telah diterima warga Kota Kediri dari Allah.

Tumpeng terbagi tiga bagian. Yakni, tumpukan polopendem, buah-buahan, sayuran, dan tumpeng nasi kuning. Semua disajikan di tampah. Buah yang diperebutkan adalah wujud memamerkan begitu besar karunia dan rezeki yang bisa dinikmati.

“Tidak ada hubungannya dengan kepercayan, apalagi hal mistik,” tegas laki-laki yang akrab disapa Bagio ini. Tumpeng yang tersedia itu diserbu ribuan warga hingga berdesakan setelah dibuka dengan doa. Prosesi menuju titik puncak kegiatan larung sesaji ini dihadiri ribuan warga yang antusias.

Pukul 15.30, prosesi larung sesaji berlangsung dari bantaran Sungai Brantas. Yang dilarung kepala lembu serta bebek. Mereka menggunakan perahu tim badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

Menurut Bagio, kepala lembu yang dilarung merupakan wujud dari masa kejayaan masa lalu dengan berdagang di sungai. “Saat itu barter. Mulai dari hasil bumi, iwen-iwen, lembu atau sapi, kambing semuanya diperdagangkan di sungai,” terangnya.

Hal serupa disampaikan Mandung Sulaksono, asisten I Pemkot Kediri. “Ini adalah budaya lokal yang harus kita angkat, agar ekonomi di sepanjang Sungai Brantas dan Kota Kediri semakin berkembang,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bila budaya harus dijaga, harus diuri-uri.

Sementara itu, Kepala Disbudparpora Kota Nur Muhyar menuturkan, kegiatan ini murni kebudayaan dan bukan terkait kepercayaan tertentu.”Di sini kegiatan budayanya juga kami beri sentuhan entertain agar bisa dinikmati masyarakat,” terangnya.

Nur memaparkan, larung sesaji dan labuh bumi merupakan  simbolik mensyukuri apa yang ada di Kota Kediri karena budaya disimbolkan dalam bentuk hasil bumi. Ia berharap, mampu terus melestarikan budaya dengan sentuhan entertain agar memiliki ikonik yang bersifat budaya.

Sumiati, warga Balowerti, yang menyaksikan prosesi larung sesaji, mengaku, senang dan penasaran. “Dari tahun sebelumnya, ini lebih ramai dan padat,” kata perempuan 60 tahun ini. Walau mengetahui prosesinya dari tahun sebelumnya, ia tetap penasaran dengan larung sesaji dan labuh bumi tahun ini. (rk/fiz/die/JPR/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...