Dituduh Sihir, Suami-Istri TKI Asal Indramayu Lolos Hukuman Mati di Saudi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, INDRAMAYU – Pasangan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Indramayu, Tohirin dan Nurnengsih berhasil lolos dari hukuman mati. Warga Blok Mangir RT 01 RW 05 Desa/Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, itu bekerja di Arab Saudi dan sempat terancam hukuman mati atas tuduhan sihir pada 2016 lalu.

Kabar lolosnya Tohirin dan Nurnengsih dari hukuman mati ini tentu membuat anggota keluarga lega. Karena selama ini saat bekerja di Arab, baik Tohirin ataupun Nurnengsih jarang memberi kabar.

Ditemui di kediamannya, Kakak Nurnengsih, Eniyah mengatakan, adiknya dituduh melakukan sihir terhadap anak majikan lamanya. Tuntutan hukum, kata dia, baru dilayangkan setelah Tohirin dan Nurnengsih tidak lagi bekerja pada majikan itu dan bekerja di madrasah.

“Sebelumnya keluarga di sini tidak tahu kalau Tohirin dan istrinya kena hukuman mati. Yang kami tahu, mereka ditahan kepolisian,” ujarnya.

Eniyah mengatakan, Tohirin dan Nurnengsih sudah cukup lama bekerja di Arab Saudi. Bahkan Tohirin dan Nurnengsih sudah  mempunyai 4 anak yang semuanya lahir di Arab Saudi.

Ketiga anaknya saat ini sudah pulang ke Indonesia terlebih dahulu sejak tiga bulan lalu. Sementara Tohirin dan Nurnengsih dikabarkan akan pulang pada 4 Agustus mendatang.

“Kami berharap keduanya bisa sesegera mungkin dipulangkan. Jangan sampai lebih dari tanggal yang ditetapkan. Keluarga juga selama ini selalu komunikasi dengan Tohirin mengenai kondisi terkini dan kabar pemulangan,” jelasnya.

Sementara Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi asal Indramayu yang tergabung dalam Wiralodra Community Saudi Arabia mengapresiasi kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh yang telah membantu pembebasan Tohirin dan Nurnengsih dari hukuman mati.

“Kami atas nama komunitas PMI asal Indramayu di Arab Saudi mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kinerja KBRI Riyadh yang sudah membebaskan kedua anggota kami dari hukuman mati,” ucap ketua Wiralodra Community Saudi Arabia, Abul Aziz Rasman alis Kang Dul.

Kang Dul menceritakan, Tohirin dan Nurnengsih awalnya bekerja pada majikan bernama Sanad Al-Zuman selama 13 tahun. Namun keduanya memutuskan untuk pindah bekerja di Madrasah Darul Bayan sambil membawa kedua anak perempuannya untuk disekolahkan di madrasah tersebut.

“Setelah Tohirin dan istrinya pindah bekerja dari majikannya ke madrasah, selang waktu 2 tahun secara mengejutkan mereka didatangi intel kepolisian setempat, kemudian ditangkap dan dibawa ke kantor polisi atas laporan dari mantan majikannya dengan tuduhan telah menyantet istri dan anaknya,” ujar Kang Dul.

Kang Dul menjelaskan, Tohirin sempat ditahan selama dua minggu. Sedangkan Nurnengsih ditahan selama 10 bulan.

Setelah Tohirin dan Nurnengsih ditahan, kemudian pihak KBRI Riyadh membantunya dengan menyediakan pengacara untuk membantu mengeluarkan keduanya dari jeratan hukum mati. Setelah melalui 4 kali proses persidangan termasuk mengajukan banding atas Jaksa Penuntut Umum (JPU), akhirnya keduanya bebas dari ancaman hukuman mati tindak pidana sihir.

“Kalau ketiga anaknya sekitar tiga bulan yang lalu sudah dipulangkan kini hanya menunggu exit permit Nurnengsih saja yang masih belum dapat. Kalau sudah dapat, harapanya ingin balik ke Indramayu dapat terwujud,” tutupnya. (oni/RC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...