Peluang Moeldoko Dampingi Jokowi Makin Besar

Minggu, 5 Agustus 2018 - 14:11 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo alias Jokowi hingga kini belum menentukan Cawapresnya. Padahal, waktu pendaftaran Cawapres-Cawapres di KPU Pusat tinggal lima hari saja, yakni pada 10 Agustus 2018.

Tak hanya Jokowi, Prabowo Subianto juga belum menetukan Cawapresnya. Pengamat politik PARA Syndicate, Ari Nurcahyo mengatakan, Jokowi lebih memilih Cawapres yang memiliki kapabilitas untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Dari dua syarat ini, Jokowi akan lebih mendekat ke Kepala Staf Presiden Jenderal (Purn) Moeldoko dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD.

“Pertimbangannya adalah soal kemampuan dan kompetensi memecahkan solusi, ada solusi soal persoalan kesejahteraan, persoalan hukum, keamanan, persoalan intoleransi, radikalisme, dan  sebagainya, dua tokoh ini (Mahfud dan Moeldoko) bisa,” kata Ari, Minggu (5/8).

Meski begitu, kata Ari, dua tokoh ini memiliki kemampuan yang sama soal menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, sekaligus pasangan yang cocok buat Jokowi. “Cuma penekanan saja yang beda,  kalau keamanan Pak Moeldoko lebih kuat, kalau soal hukum Pak Mahfud, kalau kesejahteraan sama-samalah. Kalau bicara chemistry dengan Pak Jokowi, Oke,” ujarnya.

Dikatakan Ari, keputusan Jokowi dalam memilih Cawapresnya juga akan tergantung pada keputusan Prabowo Subianto. Pasalnya, Prabowo belum memustukan siapa calonnya, tapi dari sikap komunikasi Prabowo sejauh ini, Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) berpeluang menjadi Cawapres Prabowo.

Jika hal ini terjadi, maka Jokowi dipastikan akan menggandeng Moeldoko sebagai Cawapresnya nanyi sebagai penyeimbang. “Kalau chemistry terhadap lingkungan politik kompetisi yang akan berlangsung karena militer-militer, Prabowo-AHY, menurut saya Jokowi harus punya akses kuat kepada militer, karena apapun networking jaringan militer harus juga bisa digunakan,” paparnya.

“Dalam hal ini Pak Moeldoko akan lebih punya probabilitas terpilih lebih besar dibanding Pak Mahfud. Lebih pas Moeldoko dan kompetisinya berimbang,” tambahnya.

Sementara itu, mantan Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS) Laksamana Muda TNI (Purn) Soleman Ponto menuturkan, secara elektabilitas Moeldoko lebih baik secara elektabilitas dari Prabowo maupun AHY. Itu terlihat dengan pangkat dan jabatan terakhir Moeldoko sebagai Panglima TNI.

Sementara Prabowo adalah jenderal bintang tiga dan jabatan terakhir Panglima Kostrad. Sedangkan AHY yang disebut-sebut sebagai bakal cawapres Prabowo, memutuskan mundur dari TNI pada 2016 lalu dengan pangkat terakhir sebagai mayor.

“Ya kalau kemampuan militer yang sudah teruji ya Pak Moeldoko lah, Panglima TNI. Sudah pasti, beliau Panglima TNI. Kalau kita pakai ukuran yang sudah jelas, Panglima TNI, bintang tiga, baru mayor, jelas itu,” tutur Soleman.

Soleman kemudian menjelaskan sejumlah keunggulan Moeldoko yang dinilainya layak menjadi cawapres Jokowi. “Yang jelas, pertama dia pernah Panglima TNI, yang kedua, dia sekarang kan Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dan ketiga sebagai Kepala Staf Presiden,” ucap dia. (Aiy/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.