Fahri Hamzah: Pidato Jokowi dari Awal Mengadudomba Rakyat Sendiri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua DPR-RI, Fahri Hamzah sangat menyayangkan isi pidato Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang mengajak relawannya untuk siap berantem dengan pihak lawan saat Pilpres 2019 nanti.

Menurut Fahri Hamzah, sejak terpilih menjadi Presiden pada 2014 lalu, Jokowi tidak pernah menyampaikan pidato yang bisa menyatukan rakyat, seperti yang dilakukan oleh pimpinan-pimpinan terdahulu, malah membuat perpecahan di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

“Jokowi itu tidak pernah berpidato pada rakyat Indonesia yang menyatukan, itu belum pernah. Bung Karno dulu pidatonya menyatukan rakyat, musuh ada di luar, Inggris kita lingggis, Amerika kita setrika, jadilah terlihat perhatian kita kepada musuh besar, kita menyatu melawan musuh negara, melawan pengkhianat yang datang merong-rong kita dari luar, lah ini ngga,” kata Fahri di Gedung DPR-RI, Senin (6/8).

Dikatakan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, pidato Jokowi selalu mengadudomba rakyatnya sendiri. Itu terlihat dari pidato-pidato sebelumnya yang meminta agama dipisahkan dari politik, mengklaim diri pancasila dan terakhir mengajak relawan berantem dengan lawan. Padahal, para relawan yang datang untuk rapat koordinasi di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada, Sabtu (4/8) itu tak jelas orang-orangnya.

“Pidatonya dari awal mengadudomba rakyat sendiri. Dia juga minta pisahkan agama dengan politik, terus saya pancasila kamu bukan, dan sekarang ajak relawan berantem, ini relawan tak ada aktenya, ini kumpulan tak jelas, iya kan. Karena mereka bukan Parpol ada mandat, ada kejelasan,” ucapnya.

“Lah posisi mereka dimana, siapa penanggung jawabnya, namanya relawan itu orang yang rela yang datang berkerumun, tiba-tiba disuruh berantem. Terus kalau berantem siapa yang mau tanggung jawab, namanya relawan iyakan, kita ngga bisa lacak ini orang siapa,” sambungnya.

Untuk itu, politisi asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengaku prihatin dengan cara pidato Jokowi yang bisa menimbulkan anarki dan memecah belah rakyat. “Dan sikap ini bisa menimbulkan anarki dan sekali lagi berhentilah memecah belah rakyat,” tegas Fahri.

Fahri juga menyarankan agar Jokowi harus tampil sebagai negarawan saat berpidato biar publik terpukau. Namun, buat Fahri, gaya adudomba yang dilakukan Jokowi ini adalah kegagalan narasi Pemerintah yang terjadi sejak awal kepemimpinannya.

“Pak Jokowi itu harus memberikan pidato sebagai negarawan yang membuat kita semua terpukau. Nah ini yang saya bilang, kegagalan narasi Pemerintahan ini dari awal, itulah yang merusak bangsa Indonesia,” jelasnya.

Fahri berharap, Presiden baru nanti adalah benar-benar Presiden yang mampu menyatukan rakyat Indonesia dengan narasi-narasinya, serta mampu membangunkan rakyat Indonesia dari keterpurukan dan percaya diri mampu melakukan perubahan besar.

“Maka sekali lagi Presiden baru adalah Presiden yang punya narasi, narasi yang menyatukan, narasi yang membangkitkan semangat kita, narasi yang membuat kita itu bangun dari keterpurukan, narasi yang membuat kita merasa tak mampu menjadi mampu, dari perasaan menggenggang dunia ini dan melakukan perubahan besar,” harap Fahri. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment