Mau Nyaleg Modal Tipis? Jangan Mimpi


Dia juga mengaku, yang paling ditakuti caleg adalah aksi serangan fajar alias politik uang saat detik-detik pencoblosan. “Misalnya satu suara dihargai Rp 100 ribu, dikalikan tiga ribu suara, maka total Rp 300 juta. Ini ada caleg yang berani lebih membayar dari Rp 100 ribu,” sebutnya.Lain halnya dengan Ria Puspita, bacaleg dapil Balikpapan Tengah yang mendaftar di KPU melalui PBB. Dengan tegas, dirinya tidak melakukan dan menolak prakktik money politics. “Sebagai bacaleg, saya tidak takut bersaing dengan para caleg yang melakukan money politics. Karena, menurutku, masyarakat sekarang sudah pintar memilah mana yang bekerja untuk masyarakat, mana yang bertujuan untuk mencari uang, uang dan uang. Ya, bisa dibilang mencari proyek,” kata Ria yang juga seorang model ini.Oleh sebab itu, dia berharap masyarakat menjadi pemilih cerdas dan menolak politik transaksional. “Tolak money politics, maka kita menyelamatkan Indonesia. Karena apa? Karena banyak caleg hanya untuk mendapatkan uang (korupsi) bukan malah mau menyejahterakan masyarakat,” ucapnya.Meski begitu, Ria mengaku optimis memenangkan Pileg 2019. Dia tidak memiliki strategi khusus untuk bersaing dengan lawan politiknya, tapi melakukan pendekatan dan pengenalan lebih dalam kepada warga.Menurut dia, strategi untuk menghapuskan money politics tidak gampang. Sebab, orientasi sebagian masyarakat sudah uang. Tipe itu ingin memilih calon pemimpin jika dibayar.  “Andaikan masyarakat tahu dampaknya seperti apa, andaikan juga masyarakat mau menolak money politics tanpa mau suaranya dibeli, maka masyarakat tahu mana yang mau bekerja untuk masyarakat dan mana yang mau mencari kepentingan,” pungkasnya. (tur/rus/k1)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...