Dilewati Tiga Lempeng Aktif, Luwu Diintai Gempa

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, LUWU — Belakangan bencana alam di Indonesia semakin marak terjadi. Bahkan dahsyatnya gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), 5 Agustus lalu, masih teringat hingga saat ini.

Para ahli mengatakan, apabila dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa memang sudah pasti akan terjadi di Indonesia. Bahkan di Kabupaten Luwu Raya, saat ini juga diintai bencana gempa.

Kepala bidang informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan, wilayah Indonesia itu sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Dari tumbukan ini terimplikasi adanya sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya gempa kuat.

Fakta menunjukkan bahwa Indonesia dikelilingi oleh sedikitnya tiga lempeng aktif yang terus bergerak di bawah permukaan negeri. Lempeng-lempeng bumi tersebut tak hanya menjajar dari Sumatera dan Jawa saja.

Sedangkan, patahan lempeng Indo-Australia dan Eurasia bergerak terus ke timur hingga “Kepala Burung” Papua dan membelok ke Utara ke arah Maluku, dan Sulawesi.

Secara geologis nyatanya memang pulau Sulawesi memiliki bentuk muka bumi yang berbukit, banyak dataran tinggi, dan gunung berapi. Gunung Soputan, Sempu, Tondano, Lokon, Mahawu, Klabat, dan Karangetang adalah sebagian nama gunung berapi aktif yang berada di bentangan alam Pulau Sulawesi.

Jejeran gunung dan bentangan alam di wilayah Sulawesi tersebut menjadi bukti nyata, Pulau Sulawesi merupakan pulau yang berada di atas sesar aktif lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

Wilayah Sulawesi Tengah hingga Selatan memang terbentuk oleh pergerakan aktivitas seismik yang aktif. Berdasar pada catatan penulis yang disadur dari berbagai sumber, sedikitnya ada tiga sesar atau patahan yang akan memantik ancaman bencana alam gempa bumi di sekitar wilayah Kota Palu hingga Sulawesi Selatan.

Skala Kecil

Sejumlah gempa pun pernah terjadi di Sulawesi. Seperti di Kota Palu, di Sulawesi Tengah menjadi salah satu Kota yang amat rentan akan ancaman bencana gempa bumi. Catatan terakhir pada 2006, Kota Palu dan sekitarnya diguncang gempa bumi dengan kekuatan 6.3 pada skala richter. Lokasinya berapa pada 40 km barat daya kota Palu dengan kedalaman gempa yang dangkal, sekitar 10 km.

Belum beberapa lama pula, 2011 silam, Kota Palu kembali digoyang oleh pergerakan patahan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Kala itu, BMKG mencatat bencana gempa bumi sebesar 5.1 skala richter pada kedalaman 23 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gempa juga pernah terjadi di Luwu Raya. Seperti yang terjadi di Sorowako, Minggu 22 Juli 2018, lalu pukul 20.24 Wita berkekuatan 4,2 skala Richter (SR) mengguncang Kabupaten Luwu Timur. Pusat gempa ada di 30 km timur laut Luwu Timur. Kedalaman gempa berada di 14 km di bawah permukaan laut.

Selanjutnya di daerah Bantaeng dan Jeneponto juga terjadi gempa pada, Sabtu 3 Februari 2018, lalu. BMKG menyatakan gempa ini termasuk unik.

Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi terjadi pukul 12.44.41 WITA dengan kekuatan 4,6 skala richter. Episenter terletak pada jarak 61 km Barat Daya eneponto, pada kedalaman 10 km.

“Gempa ini unik karena Pusat gempa terletak di wilayah yang selama ini dalam catatan BMKG belum pernah terjadi gempa,” tambah Daryono waktu itu.
Ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini merupakan gempa kedalaman dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

“Peristiwa gempa ini sangat menarik karena pusat gempanya terletak di antara Kepulauan Sabalana dan Pulau Selayar yang selama ini dalam catatan BMKG belum pernah terjadi gempa. Artinya episenter terletak pada zona yang belum terpetakan struktur sesarnya. Sehingga sumber gempabumi ini disebut sumber gempa menyebar (diffuse),” ujar Daryono.

Zona menyebar (diffuse) yaitu jalur sumber gempa yang diasumsikan sebagai daerah yang mempunyai potensi kegempaan tetapi belum dipetakan dengan baik. Peta tingkat guncangan (shakemap) dan laporan dari masyarakat, menunjukkan bahwa gempabumi dirasakan di Jeneponto dan Bantaeng dalam skala intensitas II-III MMI, serta Bulukumba dan Sinjai sebesar II MMI. (idr/palopopos/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...