Jika Kena Razia Lagi Pemilik Kendaraan Didenda Berlipat-lipat

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA – Operasi kebersihan, yustisi sampah yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda telah berakhir. Kegiatan yang dilaksanakan 6-8 Agustus ini telah menjaring 70 warga pelanggar waktu membuang sampah.

Setelah menjalankan sosialisasi selama dua bulan, operasi ini kemudian digelar di enam kecamatan. Yakni Kecamatan Samarinda Kota, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda ulu, Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Sungai Pinang, dan Kecamatan Sungai Kunjang.

Namun, ketika sidang berlangsung, kemarin, hanya 53 pelanggar yang hadir. Sedangkan 13 pelanggar yang tidak hadir dikenakan verstek. Ini disampaikan Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Samarinda, Syarifuddin.

“Dalam aturan, dapat diputuskan tanpa kehadiran terdakwa. Apalagi ini tipiring (tindak pidana ringan). Tinggal koordinasi antara DLH, pengadilan, dan kejaksaan untuk memanggil pelanggar yang tidak hadir sidang. Pelanggar wajib membayar denda,” ungkap pria yang akrab disapa Udin ini.

Dia berharap kejaksaan segera menyurati 13 pelanggar tersebut. Sehingga dapat memberikan efek jera. “Kalau dibiarkan, bisa jadi malah mengulangi,” katanya.

Masing-masing pelanggar, lanjut dia, wajib membayar Rp 50 ribu. Ditambah uang perkara Rp 3 ribu. Hal seperti ini cenderung tidak memberi efek jera. Sehingga bisa saja orang yang pernah terjaring kembali terjaring. Menanggapi ini, Udin memastikan memiliki data. “Kalau benar (melanggar dua kali) kami akan sampaikan pada jaksa atau hakim,” ungkap dia.

Tujuannya, agar sanksi yang diberikan lebih berat. Dia memperkirakan sanksi bagi pelanggaran yang sama mencapai Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. “Jangan coba-coba, kami sudah simpan identitas yang pernah melanggar,” ucap mantan kepala Bagian Hukum Pemkot Samarinda ini.

Setelah menyelesaikan sidang tipiring itu, ke depan pihaknya akan menggelar sosialisasi di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Palaran, Kecamatan Sambutan, Kecamatan Samarinda Seberang, dan Kecamatan Loa Janan Ilir. Targetnya dimulai awal September mendatang. “Jadi, Oktober atau November akan dilakukan operasi yustisi lagi,” pungkasnya.

Diketahui, Pemkot Samarinda sudah lama menerapkan waktu membuang sampah di tempat pembuangan sementara (TPS). Ini pun diberlakukan untuk seluruh wilayah Kota Tepian. Membuang sampah hanya diperbolehkan pukul 18.00 Wita sampai pukul 06.00 Wita.

Maka, bila membuang sampai melewati waktu tersebut, siang hari, melanggar aturan. Ini tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2/2011 tentang Pengelolaan Sampah. Bahkan pelanggaran aturan diancam denda maksimal Rp 50 juta. (*/dq/rsh/k18)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi M1

Comment

Loading...