Rupiah Makin Melemah, Begini Kata Pakar Ekonomi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Keterpurukan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini diklaim akibat dampak krisis ekomomi yang melanda selumlah Negara di Eropa. Tak hanya Indonesia, dampak serupa juga terjadi kepada negara-negara di asia tenggara mengalami dampak krisis tersebut.

Pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowl)-Jusuf Kalla (JK), saat ini terus berupaya melakukan strategi ekonomi agar tidak terjadi gejolak di tengah masyarakat, khususnya bagi pelaku bisnis. Bahkan sejumlah pengamat memprediksi situasi yang sulit yang dihadapi Indonesia Ini akan berlangsung lama. Hal ini dipicu adanya pengetatan mata uang Amerika dan suku bunga.

Bila pemerintah tidak cepat melakukan upaya dan mencari solusi, maka tidak mustakhil mata uang rupiah akan semakin terpuruk. Situasi sulit Ini diperkirakan akan berlangsung cukup lama hingga pertengahan 2019 mendatang.

Pakar ekonomi dari Universitas Gajah Mada A.Tony Prasetiantono berpendapat, perkembangan aktivitas riil perekonomian global masih sangat baik, ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan sehat yang terjadi secara luas di negara maju dan berkembang.

“AS menjadi salah satu negara dengan kinerja ekonomi paling menjanjikan, dengan pertumbuhan yang berada dalam tren peningkatan. Pertumbuhan ekonomi diikuti tingkat pengangguran yang terus menurun hingga menyentuh 3,8% pada bulan Mei 2018 atau terendah dalam 18 tahun,” kata Tony Prasentiantono di Hotel The Bellevue Suites, Selasa (14/8).

“Ke depan, aktivitas riil ekonomi global diperkirakan masih solid meski bergerak ke arah moderat yang nampak pada indeks perdagangan internasional (Baltic Dry Index) dan indeks manufaktur (PMI index) yang berada pada arah ekspansif,” sambungnya.

Sementara itu, Pertumbuhan Q2 2018 mencapai 5,27% tertinggi sejak tahun 2014 setelah memasuki masa konsolidasi pasca commodity boom pada tahun 2015-2016 Sisi Pengeluaran Kontribusi konsumsi RT meningkat di Q2 2018 sejalan dengan pertumbuhan yang tinggi.

“Kontribusi PMTB sedikit menurun di Q2 dibandingkan Q1 2018, namun tetap lebih tinggi dari Q2 2017. Komponen lain mengalami peningkatan terkait dengan tingginya pertumbuhan inventori,” ujarnya.

Perdagangan internasional masih menunjukkan kontribusi negatif sejalan dengan tingginya impor terkait aktivitas produksi dalam negeri. “Selama beberapa bulan, neraca perdagangan Indonesia di 2018 mengalami defisit lebih sering dibanding tahun sebelumnya. Meski secara ytd, ekspor Januari-Mei 2018, tumbuh 9,65%. impor tumbuh lebih cepat khususnya Impor non-migas,” paparnya.

Berbeda jika dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya, neraca perdagangan non-migas Indonesia mengalami defisit 2 bulan berturut-turut dari April sampai Mei 2018.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...