Begini Kronologi Meiliana yang Dituding Protes Suara Azan

Kamis, 23 Agustus 2018 - 19:26 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ranto Sibarani, anggota tim penasihat hukum terpidana penistaan agama, Meiliana, blak-blakkan soal kronologi kasus yang menjerat kliennya.

Ranto menjelaskan, kasus yang menimpa Meiliana bermula kala kliennya itu berbelanja kebutuhan pokok di sebuah warung tak jauh dari tempat tinggalnya di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada 22 Juli 2016.

Meiliana kemudian mengeluh soal volume pengeras suara Masjid Al Maksum yang hanya berjarak tujuh meter dari rumahnya dengan pemilik warung.

“kak, sekarang suara mesjid agak keras ya, dulu tidak begitu keras”, pemilik warung yang jadi saksi dipersidangan tersebut juga mengakui bahwa itulah yang diucapkan Meiliana,” tulis Ranto lewat akun Facebook miliknya, Kamis (23/8).

Keluhan tersebut, sambung Ranto, akhirnya menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya berubah menjadi larangan mengumandangkan azan. Bahkan, seorang saksi yang dihadirkan mengaku mendapat provokasi untuk melakukan aksi terhadap Meiliana soal isu pelarangan azan pada 29 Juli 2016.

Beberapa orang mendatangi rumah Meiliana, mempertanyakan kebenaran issu “ada yang melarang Adzan” langsung ke rumah Meiliana,” tuturnya.

Ranto menambahkan, massa yang hadir semakin banyak. Lantaran emosi, massa kemudian merusak dan membakar rumah Meiliana dan beberapa vihara di Tanjungbalai.

Lalu pada 30 Mei 2018, lanjut Ranto, Kejaksaan Negeri Tanjungbalai mengeluarkan surat perintah penangkapan dan menahan Meiliana.

Jaksa mendakwa ibu Meiliana, melanggar pasal 156 subsidair pasal 156a Huruf (a) KUHPidana yang berbunyi: “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianuit di Indonesia”,” terangnya.

Jaksa mendakwa Meiliana melakukan tindak pidana penodaan agama pada tanggal 29 Juli 2018 dengan alat bukti surat pernyataan dan fatwa MUI Sumatera Utara. Padahal, kata Ranto, pada hari itu kliennya menjadi korban persekusi oleh massa yang menggeruduk rumahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumatera Utara, memvonis hukuman kurungan penjara 1,5 tahun bagi terdakwa penistaan agama, Meiliana.

Hakim Ketua Wahyu Prasetyo Wibowo menyatakan, Meiliana terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penistaan agama.

“Sehingga hakim memutuskan Meiliana dengan hukuman penjara 1,5 tahun dan denda Rp5.000,” ujar Wahyu di ruang sidang, Selasa (21/8).

Mendengar putusan tersebut, penasihat hukum Meiliana, Ranto Sibarani, akan mengajukan banding terhadap vonis kliennya. (riz/fin)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.