Menabung di Tiang Bambu Sejak Tahun 1978, Tukang Becak Ini Tunaikan Ibadah Haji dengan Sang Istri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID – Tekad besar Supriadi patut menjadi contoh. Jerih payahnya sebagai pengayuh becak dia sisihkan setiap hari. Tak banyak, hanya Rp 2 ribu per hari. Dimasukkan ke tiang bambu penyangga teras. Hasilnya, dia mampu berangkat haji bersama sang istri.

Sedikit demi sedikit. Lama-lama jadi bukit. Itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan perjuangan Supriadi. Siapa sangka bahwa seorang tukang becak sepertinya bisa berangkat haji dari hasil jerih payahnya sendiri.

Warga Kelurahan Bandarlor, Kota Kediri ini tak mendapatkan dari hasil warisan atau menjual tanah. Tapi menabung dari sedikit demi sedikit. Itu dilakukannya mulai bujang. Sejak 1978!

Bagi Supriadi, biaya haji yang mencapai puluhan juta rupiah tentu saja sesuatu yang mahal. Apalagi dia yang hanya bekerja sebagai pengayuh becak. Membayangkan dia membiayai dirinya sendiri berhaji saja sudah sulit. Apalagi ini mengajak sang istri pula.

“Alhamdulillah sueneng. (Rasa senangnya) tidak bisa dibandingkan dengan apa-apa,” kata Supriadi saat dihubungi Jawa Pos Radar Kediri.

Kisah Supriadi berawal dari 1978. Saat itu ia memang memiliki niat yang sangat besar untuk berangkat ke Tanah Suci. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk menyisihkan pendapatan dari mengayuh becak untuk ditabung. Bukan di koperasi ataupun bank. Namun ia tabung di tiang bambu yang menyangga teras rumahnya.

“Satu per satu, apabila satu penuh pindah ke tiang lain hingga sebanyak 6 tiang.” sahutnya.

Setiap hari ia memasukkan uang ke tiang bambu tersebut. Jumlahnya tak banyak. Kadang Rp 2 ribu. Kadang pula Rp 5 ribu, bila pendapatan yang didapatnya lebih banyak. Sesekali juga ia menambahnya sedikit saat ada rezeki lain.

Supriadi menyampaikan bahwa uang yang disisihkanya tersebut tak hanya dari hasil jasa becaknya. Namun juga dari hasil kerjanya sebagai loper koran dan menjual buku-buku bekas. Dalam keseharianya ia mangkal di perempatan Aries Motor Jalan Dhoho. Juga membuka lapak buku bekas di tempat yang sama. Sementara istrinya jualan di kios kecil di Jalan Raden Patah.

“Setiap pagi sebelum narik, saya mengantar istri untuk jualan di sana (Jl Raden Patah, Red),” tambah kakek 68 tahun itu.

Selama 30 tahun jerih payahnya, akhirnya mendapatkan hasil. Pada 2008 Supriadi membuka enam celenganya itu. Uang yang dikumpulkanya selama ini berjumlah Rp 72 juta. Dan pada tahun itu juga lantas ia menggunakanya untuk membayar uang muka pendaftaran haji sebanyak Rp 50 juta.

Ayah dua anak tersebut mengaku selama ini tidak pernah sakit. Meskipun perawakan tubuhnya kecil namun semangatnya itu tak memperlihatkan sama sekali bahwa dirinya lemah. Justru itu yang menjadi kelebihannya, tampak tegar meskipun penuh dengan kekurangan.

 

Bersahaja Tapi Tak Rendah Diri

 

Bagi Ashari, ketua regu kloter tempat Supriadi berada, sosok jamaahnya itu sangat khas. Penuh kesederhanaan. Sehari-hari sangat bersahaja. Dan baginya, hal itu merupakan keistimewaan dalam ibadah haji kali ini. Seseorang yang ekonominya tergolong menengan ke bawah tapi mampu menutupi dengan semangat yang tak pantang menyerah. Upaya luar biasa sehingga bisa mewujudkan keinginan yang belum tentu dirasakan oleh banyak orang.

“Ini semua karena niat, sehingga Pak Supriadi ini merupakan orang pilihan yang dipanggil Allah ke Tanah Suci,” terangnya.

Menurutnya, Supriadi ini sebuah inspirasi bagi banyak orang. Tak pandang bulu, mereka yang memiliki materi dan berkecukupan dalam kehidupan belum tentu bisa seperti Supriadi. Seharusnya orang-orang yang memiliki harta lebih harus bisa memandang sosok Supriadi.

“Beliau ini sangat tegar. Tidak rendah diri, namun tidak bisa direndahkan,” sahutnya.

Selama di tanah suci banyak hal yang membuat Ashari terkesan pada sosok Supriadi. Salah satunya adalah saat istri Sulastri istri Supriadi hilang. Saat itu juga rasa khawatir yang sangat besar tampak pada raut muka Supriadi. Hingga akhirnya ia harus mencari sang istri. Saat itu di Muzdalifah. Ia mencari sendiri dengan ketua kloter dan juga salah satu tim dokter.

Awalnya Sulastri izin mau ke toilet. Namun selang beberapa saat ia tak kembali. Setelah berputar-putar mencari Sulastri. Ternyata ia sudah berada di Mina. (rk/rq/die/JPR/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...