Pertamina Tak Bisa Atasi Kelangkaan Elpiji 3 Kg, Emak-emak Mengeluh, Pakar: Masalah Klasik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ibu rumah tangga mulai merasakan kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram, alias gas melon. Mulai dengan mahalnya harga eceran serta sedikitnya jumlah stok menjadi persoalan yang terjadi di Makassar. Meski sudah lama berlangsung, belum ada solusi dari pemerintah dalam hal ini pertamina mengatasi masalah ini.

Salah seorang emak-emak, Kartini, yang merasakan kelangkaan tersebut. Menurutnya, tabung melon tersebut masih bisa ditemukan namun sulit karena harganya juga melonjak tidak diatas rata-rata berkisar Rp 16.500 sampai Rp 17.500 per tabung.

“Mahal naik dua ribu rupiah dari biasanya, apalagi waktu menjelang lebaran. Hampir setiap warung yang saya datangi habis, sementara di swalayan harganya diatas dua puluh ribuan,” ungkapnya.

Menurutnya, karena adanya kepanikan dan kelangkaan tabung melon, menjadi alasan agar masyarakat tidak segan untuk membeli stok tabung yang banyak untuk disimpan dalam waktu yang lama.

Untuk itu, ia berharap agar pemerintah segera memberikan solusi kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram, agar tidak menjadi polemik berkepanjangan saat ini telah terjadi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

“Kami ibu rumah tangga, tentunya berharap banyak agar pemerintah segera memperhatikan insiden kelangkaan tabung gas tiga kilo, apalagi ini sudah menjadi keresahan sendiri di masyarakat di daerah,” harap Kartini.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) regional VII Sulawesi, saat menanggapi kelangkaan tabung melon tersebut, langsung menggelar inspeksi mendadak ke beberapa pangkalan atau agen elpiji 3 kilogram di Kota Makassar, diantaranya di pangkalan yang terletak di Jalan Talasalapang, Kecamatan Rappocini, Senin (27/8).

Melalui Manager Communication and CSR Marketing Operation Region (MOR) VII Sulawesi, Roby Hervindo, menegaskan kelangkaan tabung gas tiga kilogram tidak terjadi di daerah Kota Makassar.

Menurutnya kelangkan tabung gas elpiji 3 kilogram, hanya merupakan isu yang akan membuat masyarakat panik. Sehingga, ia menghimbau agar masyarakat tidak larut dalam isu kelangkaan tabung melon tersebut.

“Kami yakinkan kepada masyarakat bahwa saat ini di pangkalan semua tersedia, jangan muda termakan isu kelangkaan LPG,” jelas Roby.

Sementara untuk mengantisipasi penyalahgunakan distribusi tabung gas bersubsidi itu, Roby tegas akan memberikan sanksi kepada agen atau pangkalan di seluruh Sulawesi.

“Kita sudah memberikan surat peringatan kepada 51 agen yang melanggar dengan pengurangan stok. Sementara 12 agen dikenakan sanksi skorsing dengan tidak perbolehkan lagi berjualan LPG,” tegasnya.

Untuk diketahui kelangkaan tabung melon ini merupakan masalah klasik. Mengapa tabung gas elpiji 3 kilogram mengalami kelangkaan? Tabung melon ini ibarat primadona baru masyarakat sehingga menjadi incaran dan dambaan semua orang. Yang dimana, seharusnya untuk keluarga/masyarakat belum mampu, kini menjadi konsumen halayak umum.

Menurut Pakar Ekonomi, Dr Anas Iswanto Anwar, menjelaskan bahwa Tabung Gas Elpiji 3 kilogram atau gas melon ini memang diperuntukkan ke masyarakat ekonomi menengah kebawah dan usaha mikro, seperti penjual gorengan, bakso dan lainnya sebagainya.

Namun, ada perbedaan yang terjadi di lapangan saat tabung melon tersebut didistribusikan. Hal tersebut, dikarenakan tidak adanya batasan bagi konsumen untuk memiliki tabung melon tersebut.

“Tapi, perencaan pemerintah yang awalnya menyasar masyarakat ekonomi kelas bawah dan usaha mikro sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan. Karena saat pemasarannya semua golongan masyarakat bisa mendapatkannya, sehingga tabung melon ini akan menjadi langka,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin.

Olehnya itu, Kata Anas Iswanto, kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram, karena adanya oknum-oknum yang melakukan penimbunan secara massal, karena takut saat kehabisan stok.

Selain itu, salah satu alasan lainnya yakni agen sengaja menjual secara meluas, dengan mengesampingkan sasaran penjualan. Dimana seharusnya tabung melon tersebut diperuntukkan untuk masyarakat ekonomi kelas bawah dan para pengusaha mikro.

“Saya mengindikasikan adanya penimbunan yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Bisa saja agen penyalur, sehingga penjualan tabung melon terhambat. Diantaranya juga adalah penjualan bebas yang dilakukan agen tanpa melihat kepada siapa agen akan menjualnya,” bebernya.

“Sehingga, pada posisi penjualan bebas tabung melon tersebut, agen bisa saja salah sasaran dalam mendistribusikan, tanpa memperdulikan berapa jumlah tabung yang dijual ke konsumen yang status ekonominya menengah keatas,” imbuh Iswanto.

Tidak hanya itu, menurutnya kelangkaan tabung melon terjadi karena adanya permintaan/konsumi yang melonjak terhadap gas elpiji 3 kilogram atau biasa yang disebut ‘panic buying’.

Dimana ‘panic buying’ sendiri terjadi karena disebabkan adanya perbedaan harga yang begitu mencolok antara harga tabung melon dengan tabung gas 12 Kg. Sehingga banyak masyarakat yang beralih menggunakan gas melon, yang juga mudah dibawah oleh ibu rumah tangga, lantaran ukuran tabung yang lebih kecil dan ringan.

“Selain itu, menurut saya adanya pembelian secara panik. Maksudnya, setelah agen mendengar pihak migas mengeluarkan segment ‘kekurangan Gas’. Para agen akan membeli gas dalam jumlah banyak akibat takut kehabisan stok dan menimbunnya. Dampaknya, agen tidak melihat lagi sasaran penjualan tabung melon. Yang penting laku. Saat itulah gas akan menjadi langka ataupun jarang ditemui, sampai hilangnya dari peredaran,” ungkapnya.

Menurutnya, masalah kelangkaan tabung gas 3 Kg merupakan masalah yang sangat serius. Karena jangan sampai masyarakat akan kembali beralih menggunakan minyak tanah. Padahal, dengan adanya tabung melon ukuran 3 Kg sangat membantu para usaha mikro. Dari data BPN Kota Makassar tercatat angka kemiskinan di Makassar telah mengalami penurunan.

“Karena, kasus kelangkaan tabung ini bukan masalah sepele, dan tidak bisa didiamkan terlalu lama. Sebab kita harus melihat dari sisi lainnya. Dampak ketika tabung melon menjadi langka, bisa saja masyarakat dibawah garis kemiskinan dan usaha mikro beralih kembali ke minyak tanah. Dan ketika minyak tanah sudah langka, bisa lagi kembali menggunakan kayu bakar,” jelas Iswanto.

Sementara itu, kata Iswanto, untuk menanggulangi penimbunan tabung 3 Kg, pemerintah dan Pertamina seharusnya bertindak tegas terhadap oknum-oknum nakal, salah satunya dengan melakukan sidak di lapangan. Bukan hanya untuk menunggu momen sampai bermingu.

“Seharusnya dalam hal ini, pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pihak Pertamina, langsung melakukan sidak dan memeriksa setiap agen yang disalurkan ketika mengetahui atapun mendengar kabar bahwa tabung yang disalurkan kepada agen jumlahnya terbatas. Jangan tunggu sampai seminggu atau dua minggu kemudian,” Anas melugaskan.(ade/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...