Fahri Hamzah Sarankan Rakyat Tanya Keterpurukan Dolar ke Pemerintah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melambung tinggi. Berdasarkan data kurs Bank Indonesia (BI) nilau tukar rupiah mengalami kenaikan hingga Rp 14.785 per satu dolar AS pada hari ini, Jumat (31/8).

Melihat kondisi ini, Wakil Ketua DPR-RI Fahri Hamzah menyarankan agar Pemerintah menjawab masalah melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Dikatakan Fahri, salah satu langkah Pemerintah dalam menangani masalah ini adalah langkah antisipasi apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah, sebab BI sendiri mengalami masalah terkait pengeluaranb duit.

“Kita harus nanyanya ke Pemerintah apa antisipansinya, sebab saya dengar ini BI juga bleeding udah terlalu banyak ngeluarin duit, jadi harus dijawab ini. Karena ini menyangkut hak publik untuk mengetahui apa yang terjadi dengan perekonomian kita, dan kesanggupan Pemerintah untuk menghadapinya,” kata Fahri Hamzah kepada awak media, Jumat (31/8).

Menurut Fahri Hamzah, dirinya membaca berita terkait melemahnya rupiah sudah mendekati angka Rp 14.900 per satu dolar. Kekhawatiran pasar yang terus tidak terobati ini akan berdampak pada krisis. Selain itu, sikap pengusaha Indonesia yang berpindah dari rupiah ke dolar ini makin memperburuk pasar.

“Saya semalam mendengar sudah hampir Rp 14.900 atau 14.800 lebih. jadi ini ada kekhawatiran pasar yang terus menerus tidak terobati oleh manuver Pemerintah, bahwa kemampuan kita untuk mengatasi pendalaman krisis dalam cara kita mengelola moneter dan fiskal kita oleh Pasar dibaca sebagai keraguan gitu,” ujarnya.

“inilah yang menyebabkan orang mulai berpindah dari memegang rupiah menjadi memegang dolar secara terus menerus, mereka mengakomodasi assetnya, invesatasinya sehingga lebih berbasis pada dolar yang dianggap lebih aman nilainya,” tambah Fahri.

Berkaca pada krisis moneter tahun 1998, Fahri khawatir terpuruknya rupiah terhadap dolar ini akan berpengaruh pada psikologi dan Pemerintah bakal tak mampu membalikan kondisi tersebut. “Saya khawatir ada angka psikologis gitu, yang kalau itu bisa mencapai Rp 15.000, nah itu berbahaya, bisa-bisa itu nggak balik,” ucapnya. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar