Sulsel Krisis Elpiji 3Kg, Sony Akan Tindak ASN yang ‘Nakal’

Sabtu, 1 September 2018 - 13:13 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Gas elpiji 3 kilogram di pasaran beberapa hari ini, sulit untuk ditemukan. Selain sulitnya menemukan tabung melon tersebut, masyarakat juga resah dengan harga yang juga melonjak dari harga normalnya.

Untuk diketahui, harga pasaran tabung gas elpiji 3 kilogram yang dulunya berkisar Rp 17.000 sampai Rp 18.000, kini harga pertabungnya bisa mencapai Rp 22.000 sampai dengan Rp 23.000, di wilayah Kota Makassar.

Tidak hanya di wilayah Makassar saja, tetapi kelangkaan tabung melon itu terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan, diantaranya di Kabupaten Gowa.

Menanggapi hal tersebut, Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Soni Sumarsono, menyebut kelangkaan tabung gas 3 kilogram, terjadi karena kebutuhan masyarakat akan tabung melon tersebut meningkat dan tidak tepat sasaran.

“Secara nasional, ketesediaan stok gas cukup. Distribusi sudah dilaksanakan dari Sabang sampai Merauke dengan baik. Artinya, secara makro tidak ada masalah. Menurut hitungan di atas kertas,” ungkapnya.

Persoalan ditemukan pada level eceran. Sesungguhnya elpiji 3 kilogram adalah bahan bakar subsidi yang diperuntukkan bagi kaum miskin, untuk rakyat dengan pendapatan sangat rendah. Namun fakta di lapangan, berbeda, masih banyak golongan masyarakat menengah ke atas yang ikut menggunakannya.

Selian itu, ia mengakui bahwa tidak sedikit pula ASN (Aparatur Sipil Negara) yang nakal, menggunakan elpiji 3 kg tersebut. Padahal, tambahnya, dia sudah mengeluarkan surat keputusan untuk melarang ASN menggunakan gas khusus bagi golongan ekonomi lemah.

“Kesimpulannya, ada misdistribusi. Distribusi yang tidak tepat sasaran. Sebenarnya, saya sudah buat imbauan pada seluruh ASN lingkup Pemerintah Provinsi Sulsel untuk tidak membeli elpiji 3 kg. Itu pelanggaran,” tegasnya.

Pada insiden kali ini, ia juga meminta ada penindakan yang dilakukan oleh satgas yang memang dibentuk untuk pengawasan, diantaranya Dinas Perdagangan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga Pertamina.

Pengawasan tabung melon tersebut, tambahnya, diperuntukkan untuk mengawasi pelaku usaha seperti rumah makan, laundry, kafe, dan lainnya, yang lebih benyak menggunakan tabung gas 3 kilogram tersebut.

Kelangkaan tabung melon sebelumnya dikeluhkan ibu rumah tangga, mulai dengan mahalnya harga eceran serta sedikitnya jumlah stok di eceran menjadi persoalan yang terjadi di Makassar.

Sehingga, emak-emak berharap agar pemerintah segera memberikan solusi kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram, agar tidak menjadi polemik berkepanjangan. Dimana sampai saat ini telah terjadi di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Sementara menurut Pakar Ekonomi, Dr Anas Iswanto Anwar, menjelaskan bahwa Tabung Gas Elpiji 3 kilogram atau gas melon ini memang diperuntukkan ke masyarakat ekonomi menengah kebawah.

Namun, ada perbedaan yang terjadi di lapangan saat tabung melon tersebut didistribusikan. Hal tersebut, dikarenakan tidak adanya batasan bagi konsumen untuk memiliki tabung melon tersebut.

“Tapi, perencaan pemerintah yang awalnya menyasar masyarakat ekonomi kelas bawah dan usaha mikro sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi dilapangan. Karena saat pemasarannya semua golongan masyarakat bisa mendapatkannya, sehingga tabung melon ini akan menjadi langka,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanuddin.

Olehnya itu, Anas Iswanto, memprediksikan kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram, karena adanya oknum-oknum yang melakukan penimbunan secara massal, karena takut saat kehabisan stok.

“Saya mengindikasikan adanya penimbunan yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Bisa saja agen penyalur, sehingga penjualan tabung melon terhambat. Diantaranya juga adalah penjualan bebas yang dilakukan agen tanpa melihat kepada siapa agen akan menjualnya,” bebernya.

“Sehingga, pada posisi penjualan bebas tabung melon tersebut, agen bisa saja salah sasaran dalam mendistribusikan, tanpa mempedulikan berapa jumlah tabung yang dijual ke konsumen yang status ekonominya menengah keatas,” imbuh Iswanto. (ade/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.