Dituduh Terlalu Represif Pada Aksi Tagar, Ini Jawaban Kapolri

  • Bagikan
FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Pembubaran paksa terhadap aksi #2019GantiPresiden oleh aparat kepolisian di beberapa daerah dipandang terlalu represif. Namun, klaim itu anggap biasa saja oleh pihak kepolisian. Kapolri, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, keputusan pembatalanĀ aksi #2019GantiPresiden yang dilakukan oleh aparat kepolisian dianggap sebagai tindakan pteventif. Selain itu, sikap represif yang dilakukan pihak kepolisian sudah berdasar pada aturan yang ada. "Jadi itu kan hanya cara pandang. Kalau represif, sebenarnya kalau tindakan kepolisian itu ada preventif, represif. Tentunya represif juga harus berdasarkan aturan ya," kata Kapolri di Gedung DPR-RI, Kamis (6/9). Selain itu, keputusan membatalkan aksi tersebut dilakukan setelah aparat kepolisian melihat ada kondisi aksi sudah tidak steril atau berdampak negatif bagi semua pihak. "Ya secara umum dipandang ketika situasi itu perlu ada suatu kehadiran polisi, maka polisi itu akan hadir. Hadir disitu harus berbuat apa?, ya tentunya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat," jelasnya. Olehnya itu, keputusan Polisi yang membatalkan aksi #2019GantiPresiden itu dianggap berlebihan (represif), bukan berarti keliru tetapi lebih pada menciptakan keamanan di tengah-tengah masyarakat. "Jadi kalau bicara represif, memang ada tindakan represif. Tapi tindakan represif itu kan bukan berarti keliru," ucapnya Lanjut Kapolri, tugas Polri adalah menjaga keamanan dan berlaku buat seluruh pihak, baik #2019GantiPresiden maupun #JokowiDuaPeriode agar semua masyarakat menyambut tahun politik dengan kepala dingin.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan