X
    Categories: Ragam

Ciptakan Atmasya, Prof Sudjana Berhasil Pecahkan Masalah Nelayan Indonesia

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tingkat kesejahteraan nelayan Indonesia hingga saat ini masih dalam memprihatinkan. Persoalan tersebut bermuara pada hasil tangkapan ikan yang mengalami penurunan kualitas/ mutu. Sehingga para nelayan harus rela menjual ikan hasil tangkapannya dengan harga murah kepada para tengkulak.

Menilik lebih dalam problema yang dihadapi para nelayan tak lepas dari permasalahan klasik. Yakni minimnya tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan mereka. Memang, saat ini pendingin atau chilling menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga kesegaran ikan. Namun chilling hanya bisa digunakan oleh kapal-kapal besar. Sedangkan untuk para nelayan kapal kecil chilling masih sulit digunakan, dan sulit dijangkau secara finansial.

Proffesor Sudjana mengatakan masalah yang dihadapi para nelayan sangatlah pelik. Dia melihat adanya potensi jumlah ikan yang besar ada pulau-pulau kecil, namun tidak bisa dijual ke kota-kota besar karena turunnya mutu dari ikan tersebut.

“Jangankan chilling, es saja tidak ada dan itu menjadi keluh kesah bagi para nelayan, karena mereka takut ikan hasil tangkapannya membusuk. Seperti di Indonesia wilayah timur, disitu banyak ikan tapi es sangat jarang, bahkan tidak ada. Para nelayan pun resah karena ikan hasil tangkapannya akan membusuk. Bayangkan, ikan puluhan ton dibuang” terang Proffesor Sudjana saat ditemui di Jakarta, Sabtu (08/09).

Melihat kondisi itu Proffesor Sudjana memberikan solusi dengan menciptakan Atmasya, yakni pengawet alami yang bisa digunakan para nelayan untuk menjaga mutu ikan hasil tangkapannya.

Bumbu Penyegar

Atmasya, diibaratkan bumbu penyegar yang sifatnya menjaga kesegaran ikan dalam waktu yang cukup lama dibandingkan tidak memakai. Profesor mengatakan, dua jam ikan setelah ditangkap akan terjadi penurunan mutu, dan maksimal ikan yang sudah ditangkap hanya bisa bertahan 1 – 2 hari saja.

Dalam sebuah kasus, ketika nelayan usai menangkap ikan di perairan yang jauh dari pelabuhan, dan membutuhkan waktu 1 hari maka itu akan menjadi masalah. Di tengah melakukan perjalanan panjang menuju pelabuhan, pada saat itulah terjadi proses pembusukan pada ikan jika tidak diberi bumbu penyegar.

“Sebenarnya bumbu penyegar ini (Atmasya) bisa menyegarkan ikan bertahan lebih lama, dibandingkan tidak memakai bumbu ini. Karena jika tidak memakai bumbu ini ikan hanya bisa bertahan selama satu sampai dua hari saja. Sebenarnya dua jam saja ikan setelah ditangkap itu sudah turun mutunya.” kata Proffesor.

Dengan ditemukannya bumbu penyegar ini, permasalahan yang dihadapi para nelayan teratasi dengan baik, khususnya dalam menjaga mutu ikan yang sudah ditangkap. Dengan demikian, harapan para nelayan bisa membawa dan menjual ikan ke kota dapat terwujudkan. (***)

redaksi :