Tertipu Mandor di Malaysia, Dua WNI Nekat Berjalan Kaki Tiga Hari dan Makan Terong – FAJAR –
Daerah

Tertipu Mandor di Malaysia, Dua WNI Nekat Berjalan Kaki Tiga Hari dan Makan Terong

Ajwin dan Musfi r, warga Desa Nggelu, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB merupakan korban penipuan seorang mandor perkebunan di Sabah. ASRULLAH/RADAR NUNUKAN

Meninggalkan keluarga dan memilih menjadi buruh migran di Sabah merupakan keinginan Ajwin dan Musfir. Tujuannya, mendapatkan rupiah agar dapat menopang kehidupan keluarga. Namun, dua pemuda ini tertipu rayuan sang mandor. Keduanya harus pulang dengan sepasang pakaian di badan.

ASRULLAH

TEKAD Ajwin (30) sudah bulat menjadi buruh migran di Sabah, Malaysia. Pekerjaan sebagai petani jagung di Desa Nggelu, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat ia tinggalkan. Padahal, dengan bekerja sebagai petani setiap tiga bulan ia mampu meraup keuntungan Rp 20 juta.

Itu dikarenakan rayuan mandor yang merupakan satu kampung sendiri lebih manis. Dengan iming-iming upah RM 2 ribu atau senilai Rp 7 juta rupiah (kurs Rp 3.500) setiap bulannya dapat ia kantongi dengan bekerja di kebun sawit. Jumlah tersebut belum termasuk bonus yang bakal diberikan jika ia mampu melebihi target yang ditentukan perusahaan. Ajwin kemudian mengajak Musfir (24) merupakan sepupunya, ikut bekerja.

Namun, sudah tiga tahun di berada di Sabah, uang yang telah ia kirimkan ke istri dan dua anaknya yang masih berusia empat dan satu tahun baru Rp 2,5 juta. Janji sebelum bekerja di Sabah berbanding terbalik. Awalnya bekerja sebagai penombak sawit, belakangan justru bekerja sebagai penyabit sawit dengan tinggi pohon hingga tiga meter.

Hal ini membuatnya tak mampu bertahan. Tiga bulan pertama ia hanya diupah RM 500 setiap bulan. Upah tersebut tidak mampu menutupi biaya hidup di Sabah. Kemudian ia memilih pindah tempat kerja. Namun, hal serupa juga ia rasakan. Upah setiap bulannya hanya tersisa RM 200.

“Gaji setelah pindah RM 600. Karena, di kebun semua barang mahal. Jadi dari gaji yang tinggal kadang RM 100 hingga 200,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Jumat (14/9).

Rindu dengan sang anak sudah tak mampu ia bendung. Terlebih lagi jika ia menghubungi sang istri di kampungnya. Melalui sambungan telepon sang istri bercerita ketika putra pertamanya mendengar bunyi tong penjual es krim, dengan segera mengambil gelas. Namun, putranya tak dapat menikmati es krim, lantaran sang istri tak memiliki uang.

“Ini yang tidak bisa buat saya tidur. Sedih, membayangkan anak saya, datang ke penjual es krim namun tidak membawa uang,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dengan kondisi yang tak menentu membuatnya Ajwin. Ia bersama Musfir memilih meninggalkan tempat kerjanya yang berada di Telupid, Sabah.

Perjalanan selama tiga hari harus ia tempuh dengan jalan kaki dari menuju Tawau. Tak ada bekal makanan yang ia bawa. Apalagi uang, yang dibawa hanya sepasang pakaian yang menempel di tubuh.

Selama tiga hari menumpang kendaraan yang melintas. Namun, upayanya tak membuahkan hasil. Hanya beberapa kali tumpangan dengan jarak begitu dekat. Kondisinya kian memprihatinkan. Rasa lapar sudah tidak mampu ditahan. Tak ada uang untuk membeli makanan. Pilihannya jatuh pada terong yang berada di pinggir jalan.

Berkat terong yang dikomsumsi, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan itu, Ajwin menemukan uang RM 10 di jalan. Dengan uang tersebut digunakan untuk membayar sewa angkutan dan dibelanjakan makanan.

“Dari pada saya mati kelaparan. Jadi ada terong di kebun, kami makan sudah meminta ke pemilik. Dan di jalan juga dapat uang. Intinya, kami ditolong Tuhan, bisa sampai ke sini,” katanya.

Sempat bertemu rekannya dan mendapatkan saran agar meminta bantuan ke KRI Tawau, pun ditempuhnya. Sebelum dipulangkan ke tanah air melalui Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Ajwin dan Musfir mendapatkan bantuan sejumlah pakaian. Hanya, nasib sial kembali menimpanya. Ketika itu dijemput sejumlah orang dan menawarkan bantuan, barang bawaannya justru raib entah ke mana.

Dengan kondisi yang terjadi, ia berjanji tidak akan mudah percaya lagi kepada orang yang menawarkan pelayanan. Apalagi diberikan janji pekerjaan dengan upah begitu tinggi. Setelah mendapatkan pendampingan dari KRI Tawau, rencananya ia akan dipulangkan BP3TKI menuju kampung halamannya pada Minggu (17/9).

“Tidak lagi (kembali). Mau di kampung saja berkebun. Kasihan juga anak-anak masih kecil,” jelasnya. (***/lim)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!