Di Lapas Ini Sabu-sabu Paling Cepat Laku, Napi Sering Teler Bareng

0 Komentar

FAJAR.CO.ID-  Jauh dari hiruk pikuk aktivitas perkotaan, lembaga pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Klas III Samarinda, berada di Samarinda Utara. Penghuninya, 1.501 orang, jauh melebihi kapasitas batas dari yang seharusnya hanya dihuni 352 orang. Siapa sangka, barang haram masih bisa lolos. Bahkan, tak sedikit pengendali sabu-sabu dalam jumlah besar, dikomandoi seorang narapidana. Transaksinya begitu menggila. Penjara seolah menjadi bagian “meningkatkan” ilmu kejahatan.

Padahal, pemeriksaan Faturahman (32), warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Klas IIA Sudirman, yang mengendalikan narkoba kiriman dari Malaysia, sebanyak 1,6 kilogram, masih berjalan. Di lapas khusus narkotika, Al Musri, salah satu penghuni Blok Kahoi 5, di Lapas Klas III Narkotika, harus kembali diperiksa polisi, untuk yang ketiga kalinya. “Pertama ditangkap, itu di Sangatta, Kutim, 2013. Kedua kalinya dijemput polisi sini (Samarinda), dan ini yang ketiga,” ujarnya kepada Kaltim Post setelah dilimpahkan ke Polresta Samarinda, Jumat (14/9).

“Enggak pernah bosan?” tanya media ini. “Namanya kebutuhan. Jadi susah,” balasnya. Menurutnya, tak sedikit narapidana lain juga melakukan hal serupa yang dilakukannya. Namun, kasus yang bakal menambah vonis hukuman itu, diakui Musri terkena apesnya. Ketika petugas sipir menggelar razia mendadak. Kedatangan petugas tak diketahui. Lantaran dia tengah terlelap istirahat siang.

Musri, membeli barang haram tersebut dari seorang rekannya, yang juga berstatus narapidana. “Harganya Rp 500 ribu,” ungkapnya. Perihal asal usul barang haram, pria dengan jerawat dan rambut pendek itu menyebut tak tahu. “Cepat laku,” jelas pria yang total vonisnya sudah 13 tahun. Musri pertama dihukum 5 tahun, kasus kedua, ditambah 8 tahun. Diakuinya pula, tak pernah dia memesan kristal haram tersebut dari luar. Namun, modus penyelundupan ke dalam penjara, Musri yakin menggunakan jasa tahanan pendamping (tamping). Pasalnya, hanya tamping yang bisa mengakses hingga ke lingkungan luar pemasyarakatan.

Disinggung mengenai blok khusus untuk mengisap narkoba, Musri memilih diam. “Enggak tahu,” ujarnya. “Pernahkan kerja sama dengan petugas di sana?” tanya Kaltim Post. Warga kelahiran Sangatta, 2 Maret 1987 silam itu menyebut, di sana cukup sulit. Namun, sudah tiga kali dia transaksi barang haram di dalam. Aris berdalih, di kamar tempatnya menjalani masa hukuman, hanya dia yang “nakal”.

Untuk masuk ke lingkungan Lapas Narkotika Klas III Samarinda, sejatinya tidak mudah. Di gerbang utama, ada pos sekuriti. Dua pos yang berada di atas, rasanya cukup untuk mengamati setiap pengunjung yang datang. Ditambah penjagaan di pintu utama, hingga ke dalam pun cukup ketat.

Dijelaskan Kanit Lidik Satresnarkoba Polresta Samarinda Iptu Syahrial Harahap, adanya ponsel ditemukan oleh pelaku, polisi menduga banyak informasi yang diketahuinya. “Tapi dia masih bungkam, nanti bakal kami periksa lebih lanjut,” ucapnya. Disinggung terkait mudahnya sabu-sabu masuk ke dalam, Harahap enggan berkomentar banyak. “Intinya dalam proses pengembangan,” pungkasnya. (*/dra/rsh)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...