Disini, Masa Pendukung Capres Mulai Saling Ancam

  • Bagikan
FAJAR.CO.ID, SAMARINDA – Beberapa hari terakhir, masing-masing pendukung bakal calon presiden dan wakil di Kaltim saling menghalangi penyampaian dukungan di publik. Kedua kelompok saling mengklaim telah menaati aturan. Namun demikian, belakangan beredar “ancaman” pada kelompok tertentu agar deklarasi ganti presiden tidak dilaksanakan di Kaltim.Apabila perbedaan tersebut terus dibiarkan, maka akan berujung pada konflik sosial. Hal itu diungkapkan pengamat hukum dan politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Sarosa Hamongpranoto, Sabtu (15/9) kemarin.Kata dia, masalah muncul karena pemaknaan demokrasi yang mulai bergeser. Solusinya, sistem demokrasi yang memberikan kebebasan pada setiap warga negara mesti dijalankan sesuai aturan yang berlaku.“Perlu kita sadari, memang benar demokrasi itu memberikan kebebasan. Tetapi bukan bebas yang sebebas-bebasnya. Karena negara kita berdasarkan hukum. Jadi kebebasan itu harus dijalankan tanpa mengabaikan aturan,” tutur Sarosa.Guru besar di Fakultas Hukum Unmul itu melihat, ekspresi dukungan terhadap bakal calon presiden dan wakil presiden dewasa ini telah mengabaikan sistem dan aturan pemilu. Sehingga dukungan yang muncul di publik, baik dari pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga Salahuddin Uno, tidak mencerminkan pelaksanaan aturan pemilu.“Jadinya terlihat dukungan yang kebablasan. Demokrasi yang kebablasan begini, akhirnya akan terjadi anarkis. Dampaknya kan sangat luar biasa bagi masyarakat. Itu akan merugikan kita,” sebutnya.

  • Bagikan