HOROR! Korban Es Krim Mengandung Bakteri Jadi 79 Orang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN  –  Permasalahan es krim yang membuat puluhan korban mengalami diare, akhirnya terungkap. Berdasarkan hasil uji sampel yang dilakukan BPOM pada Rabu (12/9) lalu, menyatakan bahwa es krim tersebut mengandung bakteri stafilokokus. Bakteri inilah yang membuat puluhan konsumennya mengalami diare.

Hal ini dibenarkan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan. Es krim tersebut memang benar mengandung bakteri. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BPOM dan melakukan pemeriksaan langsung terhadap bahan dari es krim tersebut.

“Penyebabnya statilokokus. Statilokokus itu sesuai masa inkubasi bakteri yang terjadi pada orang yang kena diare. Jadi, mereka sakit hari Senin, makannya hari Minggu. Kalau dari ilmu pengetahuan yang ada, biasanya dalam waktu satu hari kena diare, kemungkinan itu bakteri stafilokokus. Setelah diperiksa, ternyata benar itu stafilokokus,” tegas Kepala DKK Balikpapan, Balerina JPP, kemarin (14/9).

Balerina menjelaskan, sejatinya bahan yang digunakan pengusaha es krim tidak ada masalah. Hanya saja bakteri tersebut muncul lantaran adanya kesalahan prosedur dalam cara penyimpanannya maupun penyajiannya. Sehingga, penjual es krim yang terletak di kawasan Balikpapan Baru itu harus mendapatkan pembinaan yang cukup, bagaimana mengelola bahannya secara baik dan benar.

“Bahan kedaluwarsa tidak ada. Tapi cara penyimpanan dan penyajiannya yang tidak bagus, makanya perlu ada pembinaan terus kepada mereka,” katanya.

Sejauh ini, pihaknya mencatat ada 79 korban yang melapor. Mereka mengalami diare dan kendala pencernaan lainnya setelah mengonsumsi es krim tersebut. Jumlah tersebut dirasa masih bisa bertambah lagi, karena beberapa di antaranya diduga tidak melapor dan melakukan perawatan medis sendiri. “Ada 79 orang yang laporan ke saya, tapi nggak tahu yang tidak laporan, bisa bertambah lagi,” sebutnya.

Sementara itu Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi mengatakan, toko penjual es krim itu telah diminta untuk tutup sementara. Pemilik beserta stafnya diminta untuk mengurus surat laik sehat serta mengikuti pembinaan dari DKK.

“Jadi sebelum buka, kami minta pelatihan di Dinas Kesehatan supaya surat layak sehatnya didapatkan dan dia mengerti bagaimana penyimpanan bahan, pengolahan supaya cepat terjaga kesehatannya,” terangnya.

Pihaknya masih memberikan kesempatan kepada pemilik kafe untuk mengikuti semua persyaratan yang diberikan agar kafenya dapat dibuka kembali, tentunya dengan standar layak sehat. “Pertama, kita menghargai. Ini ‘kan anak muda, jadi semangat entrepreneur-nya harus tetap dipelihara, dibantu saat ada kesalahan,” pungkas Rizal. (yad/yud/k1)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar