Ibu-ibu Masih Khawatir Kandungan Babi di Vaksin

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Pelaksanaan vaksin MR di sekolah menuai banyak penolakan di kalangan orangtua atau wali murid. Mereka enggan menyetujui anaknya disuntik vaksin lantaran adanya kandungan babi, kendati MUI menyatakan hukumnya mubah.

Sejak dilaksanakan kembali pada Jumat (7/9) lalu, proses suntik MR menuai aksi penolakan. Baik di tingkat SD maupun SMP, banyak orangtua yang menyatakan tidak setuju di formulir yang dibagikan sekolah. Namun, beberapa di antaranya setuju dengan alasan kesehatan sang anak di kemudian hari.

Hal berbeda terjadi di SD As’adiyah di Pandansari, belakang Masjid Manuntung, yang hampir sebagian besar orangtua murid menyatakan enggan anaknya disuntik vaksin. Dari sekira 250 murid, dikatakan 70 persen di antaranya tidak mau disuntik meski telah diberikan penjelasan mengenai manfaat vaksinasi MR.

“Awalnya itu sebelum ada masalah ini terjadi mereka nggak menolak. Nah, setelah adanya ini banyak yang menolak, hampir sebagian besar menolak, sekira 70 persen itu yang menolak,” kata Irianto Barat mewakili kepala SD As’adiyah, kemarin (15/9).

Salah satu orangtua murid SD As’Adiyah, Asriana mengaku, dirinya masih ragu anaknya disuntik MR. Adanya kandungan zat nonhalal tersebut serta sejumlah dampak dari berbagai pemberitaan yang menyebar luas, membuat dirinya berpikir ulang.

“Meski sudah dikeluarkan surat dibolehkan itu, saya tetap nggak mau karena haram. Anak saya sehat-sehat saja kok, jadi ikhtiar saja sama Allah, semoga tidak terjadi apa-apa,” tuturnya.

Irianto sendiri memang mengakui, pihaknya juga menentang keras mengenai sesuatu unsur yang mengandung zat nonhalal itu. Apalagi, sekolah yang mayoritas beragama Islam itu menolak cairan nonhalal masuk ke tubuh anak. Sehingga, para orangtua murid merasa khawatir akan hal ini dan memilih menolak untuk divaksin.

“Kita juga sebagai umat Islam, semua tahu kalau ada yang tidak halal itu tidak boleh. Sebenarnya kami semua tahu bahwa tujuan bangsa kita membangun nasionalisme seutuhnya sesuai UUD 1945 sudah betul. Tapi, karena permasalahan yang lima huruf tadi itu (haram) yang jadi permasalahan. Kami sangat mendukung, hanya saja ini kemauan orangtua yang tidak siap imunisasi dan kita tidak bisa memaksakan,” ujarnya.

Menurut Irianto, pihaknya akan menyampaikan kepada orangtua murid untuk meminta jawaban kembali apakah bersedia apa tidak. Setelah itu, pihaknya melakukan koordinasi dengan puskesmas untuk proses pelaksanaan teknis penyuntikan.

“Nanti setelah mendapat pencerahan dari Dinas Kesehatan, kita sampaikan kepada orangtua dan kita minta penjelasan lagi dari puskesmas kalau sudah ada orangtua yang siap nanti kita akan koordinasi. Apakah nanti anaknya kita antar atau sekolah yang menyediakan tempat nanti itu tidak masalah,” terangnya.

Saat disinggung apakah terjadi upaya bujuk rayuan atau pemaksaan dari petugas penyelenggara agar orangtua murid melakukan vaksinasi, Irianto mengakui, belum mendapati hal tersebut. Menurutnya, semuanya diserahkan kembali kepada orangtua terkait nasib anaknya itu.

“Tidak ada paksaan. Orangtua ‘kan sekarang lebih cerdas semua, kita tidak pengaruhi orang. Yang jelas orangtua tidak mau turun karena mau disuntik, ya sudah, kita nggak bisa lagi memaksa kalau sudah penjelasannya seperti itu. Makanya kita nggak bisa paksakan, semua itu untuk anak-anak,” pungkas dia. (yad/yud/k1)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...