Ijtima Ulama Diklaim Sebagai Politik Identitas, Begini Jawaban Telak PKS

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPFU) telah resmi memutuskan mendukung calon Presiden Prabowo Subianto dan calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno di Pilpres 2019.

Dukungan itu diputuskan oleh GNPFU lewat hasil Ijtima ribuan ulama di Indonesia pada, Minggu (16/9) di Hotel Grand Cempaka Putih. Meski begitu, beberapa pihak menyarankan agar para ulama tak digiring masuk ke ranah politik, bahkan ada yang mengklaim ijtima ulama itu bisa memecah belah masyarakat dan umat karena menerapkan politik identitas.

Menangapi pengklaiman itu, mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengatakan, selama ini politik identitas sudah ditunjukan oleh partai politik hingga para politisi. Olehnya itu, dirinya merasa aneh, jika hal-hal semacam ini kembali diungkit untuk meredam hak berpendapat orang.

“Karena politik identitas itukan ada dimana-mana, jadi identitas bisa identitas partai sekuler, dan identitas agama Islam. Bisa identik dengan agama Kristiani Indonesia juga identitas dan aneh kalau tidak ada identitas,” kata Hidayat kepada awak media, Senin (17/9).

Menurut Wakil Ketua MPR-RI itu, bangsa Indonesia sejak dulu sudah memiliki identitas tersendiri dan hal itu harus diketahui. “Kita identitasnya apa?, kita kan Indonesia, Indonesia identitas loh,” ujarnya.

Dikatakan Hidayat Nur Wahid, identitas adalah jati diri satu kelompok hingga tidak perlu merasa takut dengan posisi-posisi seperti saat ini. Tidak takut, karena identitas itu adalah jati diri kita,” tegasnya. (Aiy/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment