Jadi Pedagang Musiman, Omzet yang Diraih Bisa Puluhan Juta

0 Komentar

Di sela-sela aktivitas keberangkatan dan pemulangan jamaah di Embarkasi Haji Balikpapan, para pedagang musiman mencoba mengais rezeki. Meski musiman, omzet yang didapatkan tidak sedikit. Nominalnya mencapai puluhan juta rupiah. 

PAGI hingga bertemu siang, tak banyak kegiatan yang dilakukan Darlan. Sesekali dia membenahi letak barang dagangan di stan berukuran 3 x 3 meter. Stan yang dibangun seadanya. Beratap terpal biru dengan dinding tripleks yang disekat dengan stan pedagang lainnya. Ya, kala musim haji tiba, para pedagang penjaja pernak-pernik seperti Darla dapat ditemukan di area dalam embarkasi.

Kawasan stan diberi nama Pasar Suvenir Embarkasi Haji Balikpapan. Letaknya di samping bangunan empat lantai, diperuntukkan bagi sekretariat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

Dua bulan sudah dirinya tinggal di stan tersebut. Di belakang stan yang dipenuhi tumpukan barang disekat oleh tripleks yang menjadi kamar tidur baginya, adik dan ibunya. Meski tak senyaman tempat tidurnya, dia berusaha menjaga waktu istirahat agar tetap fit saat menyambut kehadiran para jamaah yang berkunjung ke stan. Untuk pernak-pernik, pria 45 tahun itu mengatakan, barang didatangkan dari Bandung dan Jakarta.

Menjual berbagai barang mulai baju, tempat minum/teko, hingga gantungan kunci. Baju dibanderol dengan harga Rp 50-120 ribu untuk pria dan baju perempuan Rp 200-600 ribu. Berbagai macam wadah minuman atau teko yang berhiaskan warna emas juga dijual, mulai harga terendah Rp 80-300 ribu per item. Sedangkan untuk gelas dijual Rp 80 ribu per lusin. Di stannya juga menawarkan buah kurma. Terdapat enam jenis kurma yang ditawarkan, mulai harga Rp 50 ribu sampai Rp 80 ribu per kg. Dan air zamzam kemasan 5 liter dijual seharga Rp 600 ribu.

“Penguatan dolar memengaruhi sama penjualan juga sih, karena beberapa barang mesti di-import. Meski penjualan cukup stabil, tapi modal yang dikeluarkan sedikit berpengaruh,” ujarnya.

Pria yang memiliki usaha wedding organizer ini menyebut, keuntungan yang didapatkan bisa mencapai Rp 50-80 juta. Modal yang dikeluarkan juga tidak sedikit, kisaran Rp 50 juta hingga Rp 60 juta. Semua barang telah didatangkan sebulan sebelum kedatangan jamaah haji. “Kami tidak dikenakan uang sewa stan, hanya kerja sama dengan pihak koperasi UPT, seperti pemenuhan barang-barang asrama ataupun untuk pembiayaan lain di luar tanggungan kantor,” ujar Darlan.

Sedangkan di stan milik Gunawati dan Irma Violet, mereka tidak hanya menawarkan barang, tapi juga menawarkan jasa rias. Sekali rias per orang dikenakan tarif Rp 150 ribu. Bila ditambah bulu mata dikenakan biaya tambahan Rp 50 ribu. Delapan tahun sudah keduanya berjualan. Harga barang bervariasi tergantung motif dan model, mulai dari Rp 350-700 ribu. Warna pakaian hingga kerudung misfa yang paling dicari menurut Irma ialah merah, kuning dan merah muda. “Warna-warna terang merupakan warna favorit jamaah,” tuturnya.

Dalam sehari, Gunawati menyebut penghasilan yang didapatkan bisa mencapai Rp 2 juta. Paling banyak pembeli ialah jamaah asal Sulawesi, terutama Palu karena dalam semalam bisa mencapai 50-70 orang bahkan bisa lebih sekali kunjungan. “Bila mereka tiba malam hari sudah dipastikan stan akan padat, bukan hanya berbelanja, mereka juga bisa dirias langsung di sini (stan),” timpalnya. (lil/rsh/k18)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar