PNS Berstatus Koruptor Disini Ada 55 Orang, Hadehh..

Senin, 17 September 2018 - 12:08 WIB

FAJAR.CO.ID, BONTANG – Pernikahan dini marak terjadi di Bontang. Dalam waktu delapan bulan, tercatat sedikitnya 17 pasangan muda mudi melepas masa lajang. 60 persen dari jumlah tersebut terpaksa menikah karena hamil duluan.

Yang memprihatinkan, sebagian besar pelaku pernikahan dini masih berusia belasan tahun. Mereka juga berstatus masih sebagai pelajar. Namun pihak keluarga memang tidak memiliki pilihan lain begitu tahu terjadi peristiwa kehamilan.

Hakim sekaligus humas Pengadilan Agama (PA) Bontang, Anton Taufiq Hadiyanto mengatakan, batasan minimal usia pernikahan telah diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974. Di mana, laki-laki minimal 19 tahun, sedangkan perempuan 16 tahun. Hal ini juga diperjelas dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 15. Di bawah usia tersebut, maka diharuskan mengajukan dispensasi nikah.

“Tingginya angka yang mengajukan dispensasi nikah itu sangat miris,” kata Anton kepada Bontang Post, beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, selain sudah berbadan dua, adapun faktor pernikahan dini lainnya ialah ingin menghindari fitnah terkait norma asusila karena sudah terlanjur dekat. Tak hanya itu, sebagian kecil juga menyatakan diri kesiapannya untuk membangun rumah tangga walupun usianya masih dini. “Tapi ya kebanyakan sudah dalam keadaan hamil sebelum menikah,” ucapnya.

Menurut Anton, fenomena ini akibat pengaruh kebebasan mengakses dunia maya. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada orang tua untuk menjalin koordinasi dengan putra-putrinya. Tak hanya itu, peran instansi pendidikan juga penting. Mengingat sebagian waktu dari keseharian anak berada di sekolah. Adapun kepada pemerintah daerah juga diharapkan menjaga kawasan umum yang minim penerangan.

“Perlu koordinasi baik antara orang tua, instansi pendidikan dengan lingkungan. Silakan diperketat tetapi yang positif,” tuturnya.

Beberapa permohonan saat ini masih ditangani oleh PA. Majelis hakim pun tidak serta-merta mengabulkan. Ia berujar banyak aspek pertimbangan hakim sebelum memutuskan. Salah satunya terkait visi dan misi dari bersangkutan. Baik secara lahiriah maupun batiniah.

“Memang kenyataannya lebih banyak yang dikabulkan. Tetapi kami sebelum memutuskan harus melihat jangka panjangnya. Kalau yang menghamili tidak bertanggung jawab, suka minum-minuman keras, dan tidak ada upaya dewasa pasti ditolak,” ungkapnya.

Pada persidangan, majelis hakim pun juga turut mengundang kedua belah pihak orang tua. Hal ini bertujuan untuk mengetahui komitmen dari mereka. “Ada juga yang mengatakan akan memberi modal usaha kepada anaknya. Itu juga masuk dalam catatan kami,” kata dia.

Akan tetapi fenomena ini berdampak bagi jenjang pendidikan yang mengajukan dispensasi nikah. Pasalnya dari seluruh pemohon dan termohon dipastikan putus sekolah lantaran terganjal dengan status yang telah disandangnya.

“Sudah pasti mereka putus sekolah. Kalau seperti ini kasihan karena pendidikan itu penting. Sementara mereka pasti memiliki cita-cita,” pungkasnya. (ak)

DATA PENGAJUAN DISPENSASI NIKAH

Bulan    Jumlah Pengajuan Dispensasi Nikah

Januari                  4

Februari                 2

Maret                    2

April                      1

Mei                        0

Juni                        1

Juli                         3

Agustus                  4

Total                      17

 

DATA DALAM KURUN WAKTU EMPAT TAHUN TERAKHIR

2015 = 23

2016 = 21

2017 = 15

2018 = 17*

* = Selama 8 Bulan, dari Januari hingga Agustus

Sumber: Pengadilan Agama Bontang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.