Ma’ruf Amin Ogah Mundur dari Ketua MUI, Mardani: Saya Suka dengan Sandi

Rabu, 19 September 2018 - 15:15 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Bakal Calon Wakil Presiden Ma’ruf Amin memutuskan untuk tidak melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keputusan Ma’ruf Amin ini menuai polemik di tengah-tengah masyarakat, karena dianggap akan menyalahi wewenang dan tanggung jawabnya.

Namun, Ma’ruf Amin bersikukuh tetap menjabat Ketua MUI dengan alasan tak ada larangan dalam Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Dikatakan Ma’ruf Amin, dalam AD/ART MUI dirinya bisa mundur jika sudah terpilih menjadi Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo.

Menanggapi hal ini, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mandani Ali Sera menuturkan, semua pihak harus mengikuti aturan yang ada dalam AD/ART organisasi yang menaungnya. “Pertama, semua harus ikut aturan. Jika dalam AD/ART MUI belum ada pengaturan, ke depan harus diatur,” kata Mardani kepada wartawan saat dihubungi, Rabu (19/9).

Anggota Komisi II DPR-RI ini melanjutkan, alasan Ma’ruf Amin yang enggan mundur dari jabatan Ketua Umum MUI karena belum diatur, tetapi demi keberlangsungan roda organisasi perlu dicek kembali. “Kedua, perlu dicek alasan Ma’ruf Amin, kalau sekarang memang belumm ditentukan secara resmi. Semua diserahkan pada kedewasaan tiap individu,” ucapnya.

Penggagas tagar #2019GantiPresiden ini lantas membandingkan posisi Ma’ruf Amin yang enggan mundur dari Ketua Umum MUI dengan Sandiaga Salahuddin Uno, yang lebih memilih mundur dari jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta saat mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Calon Presiden Prabowo Subianto.

“Ketiga, saya suka dengan Sandiaga yang mundur dari posisi Wagub walau tidak ada keharusan, tapi untuk menjunjung etika publik beliau mundur. Alasannya sederhana tdk ingin menyandera kepentingan warga DKI Jakarta, kareba akan sangat sibuk sebagai Cawapres,” jelas Mardani.

Dikatakan Mardani, tak ada salah dengan keputusan Ma’ruf Amin yang tetap ngotot mempertahankan posisinya sebagai Ketua Umum MUI yang bersandar pada AD/ART, tetapi secara etika kurang begitu baik. “Tidak salah, tapi secara etika publik Sandiaga memberi contoh yang baik,” tutupnya. (Aiy/Fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.