Waspada, Ada Oknum yang Manfaatkan Aksi Penggalangan Dana

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pasca gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, berbagai komunitas terutama di Makassar pun turun ke jalan meringankan beban korban bencana dengan aksi mengumpulkan sumbangan. Namun siapa sangka ada oknum tertentu yang memanfaatkan situasi guna meraup keuntungan pribadi ataupun kelompok.

Suatu malam, BKM (Fajar group) memergoki beberapa orang remaja yang turun di Jalan AP Petta Rani dan Jalan Urip Sumohardjo, tak jauh dari jembatan flyover. Mereka membawa kardus lalu meminta sumbangan kepada pengguna jalan. Tentunya dengan menyebut untuk donasi korban bencana Sulteng.

Siapa sangka, setelah mereka mendapatkan sumbangan, hasilnya kemudian dibagi-bagi. Selanjutnya dibelikan rokok, makanan serta air mineral.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Makassar Iman Hud, mengakui bukan kali ini saja dirinya mendengar praktik seperti itu. Dalam beberapa peristiwa bencana sebelumnya, kerap ada kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab turun ke jalan meminta sumbangan ke pengendara.

Hanya saja, Iman menegaskan hal itu sulit untuk diatasi. Karena pihaknya tidak bisa langsung menindak mereka. Semuanya mesti dipelajari terlebih dahulu.

“Setiap ada bencana, memang selalu saja ada orang yang memanfaatkannya. Untuk mengatasinya susah. Kita mau halangi, tidak bolehki suudzon. Tapi yang terpenting, tertib saja dulu,” katanya.

Fenomena seperti ini, menurut Iman, mesti menjadi perhatian semua kalangan. Termasuk pemerintah. Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial guna mempertanyakan keabsahan penggalangan dana mereka.

“Kalau mau minta sumbangan, mereka harus punya bendera. Dari organisasi apa. Individu juga boleh. Tapi pertanggungjawabannya harus jelas. Kita tidak bisa menjamin bantuan yang mereka koordinir sampai atau tidak,” cetusnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Makassar Mukhtar Tahir, mengatakan pihaknya kini tengah melakukan pendataan terhadap relawan yang meminta sumbangan di jalanan atas nama korban gempa Sulteng. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas para relawan. Mengingat banyak masyarakat yang masih ragu akan aksi mereka.

“Bagi masyarakat yang menggalang sumbangan di jalanan, kita data. Lalu sumbangannya kita arahkan kumpul di posko terpadu kantor Dinas Sosial. Sekarang tidak boleh lagi masyarakat yang langsung serahkan bantuan. Semua harus melalui kita,” tegas Mukhtar.

Saat ini, lanjut Utta -sapaan akrab Mukhtar Tahir– kantor Dinas Sosial dijadikan posko pusat pendataan dan pendistribusian bantuan yang berasal dari masyarakat Kota Makassar. Dirinya ingin penyaluran bantuan dilakukan terpusat agar penyaluran logistik bisa merata di seluruh posko penampungan korban gempa yang mengungsi.

“Tidak boleh masyarakat bawa sendiri-sendiri bantuannya. Sebaiknya serahkan ke kita, agar tidak terjadi penumpukan di satu tempat,” imbuh Mukhtar.

Ditertibkan

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Sulsel Ilham Andi Gazaling mengaku telah menggelar rapat koordinasi dengan Dinas Sosial kabupaten/kota menyikapi banyaknya penggalangan dana di jalan-jalan.

Pejabat yang akrab disapa Andi Ille itu berujar, seluruh Dinas Sosial kabupaten/kota akan menginventarisasi aksi-aksi penggalangan dana yang dilakukan di tengah jalan. Jika ada yang dianggap tidak memenuhi persyaratan, akan ditertibkan.

“Itu tugas kabupaten/kota untuk menertibkan permintaan sumbangan atau penggalangan dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya, kemarin.

Lebih jauh dia mengemukakan, ada usulan agar dibuatkan satu titik posko bantuan di mana masyarakat bisa menyalurkan sumbangannya ke sana.
Sementara itu, kepada masyarakat diimbau untuk hati-hati dalam menyalurkan bantuannya agar bisa sampai di tangan orang yang betul-betul membutuhkan.

“Masyarakat lebih baik menyalurkan ke tempat yang betul-betul kredibel. Berikan dan salurkan sumbangan ke tempat-tempat yang betul-betul dipercaya,” jelasnya.

Terkait penanganan pengungsi, ungkap Andi Ille, sudah ada protap yang dilakukan. Pengungsi yang membutuhkan perawatan serius, dikirim ke rumah sakit. Yang tidak memiliki keluarga di sana, diarahkan ke Asrama Haji Sudiang. Sementara yang punya keluarga, bisa langsung dijemput.
Ada juga pengungsi yang sekadar transit di Makassar, dan selanjutnya dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

“Seperti hari ini (kemarin), kami sudah berkoordinasi dengan angkatan laut memulangkan 120 pengungsi Palu ke Malang. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Jawa Timur untuk menjemput mereka di Surabaya dan dipulangkan ke Malang.

Posko pengungsi resmi yang dibuka Pemprov Sulsel saat ini berada di Asrama Haji Sudiang. Bagi yang ingin menyalurkan bantuan bisa membawanya ke sana. Bantuan tersebut secara berangsur dikirim ke Palu untuk didistribusikan ke titik-titik pengungsi,” bebernya.

Data akumulasi pengungsi asal Sulawesi Tengah yang berada di Asrama Haji Sudiang, hari pertama tanggal 29 September 2018 sebanyak tujuh orang. 30 September 64 orang. Pada 1 Oktober 88 orang. 2 Oktober 436 orang. 3 Oktober 221 orang. Dan 4 Oktober sebanyak 788 pengungsi masuk ke Asrama Haji Sudiang. Namun sebanyak 731 orang dijemput oleh keluarganya. (nug-rhm/bkm/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...