Biadab! Modal Rp 5 Ribu, Pria Uzur Ini Cabuli Enam Bocah

Selasa, 9 Oktober 2018 - 10:13 WIB

FAJAR.CO.ID, GOWA — Di halaman Mapolres Gowa, Senin siang (8/10). Seorang kakek tampak mengenakan baju tahanan berwarna oranye. Kedua tangannya terborgol. Di sampingnya berdiri Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga.

Dalam penjelasannya, Shinto menyebut lelaki yang ada di dekatnya itu dengan inisial SS. Merupakan tersangka kasus pencabulan anak. Polisi meringkusnya pada hari Jumat (5/10) pukul 18.00 Wita.
Penangkapan dilakukan menyusul laporan ke Polsek Bontomarannu bernomor 90, tertanggal 5 Oktober 2018 tentang perbuatan cabul dan persetubuhan.

Bermula dari penuturan enam anak perempuan murid SD. Mereka mengaku telah diperlakukan tak senonoh oleh SS. Guru yang mengetahui hal itu kemudian melapor ke polisi.

SS yang berprofesi sebagai tukang ojek, berhasil diciduk petugas di salah satu SD tempat mangkalnya menunggu calon penumpang. Polisi menyita barang bukti berupa satu unit sepeda motor Honda Beat DD 6594 LU.

Ada pula enam stel pakaian SD yang saat ini masih digunakan para korban. Satu lembar STNK DD 6594 LU. Satu lembar KTP atas nama Sain Dg Sau. Tiga lembar baju batik sekolah warna putih. Enam lembar rok sekolah warna merah. Satu lembar celana dalam warna putih, dan satu lembar rompi pelaku warna kuning.

Dalam pengakuannya, SS memperdayai enam korbannya di lima lokasi. Masing-masing kawasan Perumahan Sumbarang Pattallassang. Dekat Puskesmas Pattallassang. Di rumah tersangka di Dusun Tamalate, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang. Di belakang Lapas Bolangi (sebanyak dua kali). Di jalan poros Borong Pa’la’la Pattallassang.
Keenam korbannya semuanya bertempat tinggal di Pattallassang. Masing-masing berinisial DV (9), AD (9), SW (11), JA (10), ST (9) dan PR (11).

Oleh penyidik, SS yang berdomisili di Dusun Tamalate, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang dijerat pasal 82 dan Pasal 81 UU RI no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Junto Pasal 64 KUHP dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun.

Kapolres menerangkan, tersangka melakukan aksinya dengan modus mengimingi korban tumpangan gratis ojeknya. Juga memberikan uang Rp5.000.

”Motifnya untuk memuaskan birahi tersangka,” kata AKBP Shinto Silitonga saat merilis kasus ini, kemarin.
Dari hasil interogasi penyidik, SS diduga telah melakukan aksinya dalam rentang waktu 1-2 tahun dengan korban yang sama. Dalam aksinya, korban diancam akan dibunuh jika melaporkan perbuatannya.

Kepada polisi, tersangka mengaku telah menduda selama 24 tahun. Ia nekat melakukan perbuatan tercelanya, karena tak lagi bisa menahan nafsu melihat bocah perempuan yang biasa dibonceng menggunakan motor ojeknya.
Bocah SD yang pertama kali menjadi korbannya adalah AD. Anak ini digagahi di Jalan Lapas Bolangi, Kecamatan Pattallassang. Tepatnya di belakang Perumahan Lapas. Usai melakukan perbuatannya, korban diberi yang Rp5.000.

”Para korban telah dibawa ke RS Bhayangkara, Makassar untuk dilakukan visum. Penyidik juga telah melakukan olah TKP di beberapa tempat di Pattallassang. Seperti di Perumahan Sumbarang, dekat Puskesmas Pattallassang, rumah pelaku Dusun Tamalate Desa Timbuseng, belakang Lapas Bolangi dan jalan poros Borong Pa’la’la depan Pusdiklat Unismuh Makassar Pattallassang,” beber Kapolres.
Pascapenangkapan, lanjut Shinto, petugas melakukan pengamanan di rumah tersangka. Langkah ini ditempuh guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti aksi dari keluarga korban.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Gowa Hasniaty Hayat, mengecam perbuatan SS. Hasniaty menilai, perilaku amoral yang dilakukan SS dikutuk oleh agama dan hukum.

Karenanya, Hasniaty minta kasus ini diproses hingga tuntas oleh pihak kepolisian. Tak lupa dia mengimbau para orang tua agar melakukan pengawasan ketat terhadap anak-anaknya. Terutama keseharian mereka di luar sekolah. (saribulan/bkm/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.