Produksi Gabah Palopo Bisa Capai 21 Ton per Hektar – FAJAR –
Pertanian

Produksi Gabah Palopo Bisa Capai 21 Ton per Hektar

FAJAR.CO.ID, PALOPO – Selama ini, petani di Kota Palopo hanya mampu memproduksi maksimal 7,2 ton gabah per hektar. Namun dalam waktu dekat, produksinya bisa meningkat sampai tiga kali lipat atau 21 ton per hektar.

Proyeksinya, panen padi varietas baru tersebut dilaksanakan pada akhir Oktober atau awal November 2018.

Itu merupakan hasil inovasi yang dilakukan Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (DPPP) Palopo bersama Kelompok Tani (Poktan) di Kecamatan Telluwanua. Hasilnya mulai terlihat. Padi varietas baru yang dikembangkan mempunyai 3 anakan. Produksi gabah pun diprediksikan bisa mencapai 21 ton per hektar.

”Ini adalah terobosan baru Dinas Pertanian Palopo. Kalau selama ini, produksi gabah petani kita di Palopo paling banter 7,2 ton per hektar. Namun varietas baru yang akan dipanen pada akhir bulan Oktober atau awal November nanti, bisa mencapai 21 ton per hektar,” jelas Kepala DPPP Palopo, Harisman SP saat melakukan peninjauan pada lokasi ujicoba varietas baru di Kelurahan Pentojangan, Kec. Telluwanua, Palopo, Selasa, 9 Oktober 2018 kemarin.

Ada dua lokasi ujicoba yang ditinjau Kadis bersama jajarannya yakni di Kelurahan Pentojangan dan Kelurahan Salubattang, keduanya masuk wilayah Kecamatan Telluwanua. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kebenaran dari hasil ujicoba varietas baru yang dilakukan kelompok tani.

”Kita lihat langsung, dan benar dalam satu batang padi terdapat tiga anakan. Kalau yang ditanam oleh petani selama ini, satu batang 1 anakan,” terang Harisman.

Jika ujicoba ini berhasil, lanjut Harisman, maka DPPP Palopo akan mengeluarkan rekomendasi agar pada musim tanam periode April – September (Asep) 2019 mendatang, semua petani di Kecamatan Telluwanua menanam varietas padi 3 anakan ini. Selanjutnya pada musim tanam Oktober – Maret (Okmar) 2019, semua petani Palopo menggunakan padi 3 anakan.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sipatua Kel. Salubattang, Palopo, Ruhadi yang menemukan varietas padi 3 anakan ini. Pihaknya sudah melakukan ujicoba pada musim tanam April-September 2018 lalu. Ia menananya pada lahan seluas 1 hektar. Hasil panennya 120 karung dengan berat sekira 15 ton.

”Padi ini lebih berat dibanding yang biasa, lebih bening, dan rasanya lebih enak dibanding beras premium. Batangnya lebih keras, lebih pendek sehingga lebih tahan angin. Harga jualnya juga lebih tinggi dibanding gabah biasa karena benihnya dijadikan bibit unggul,” terang Ruhadi.

”Kalau gabah biasa harganya Rp4.500 per kg. Sedang gabah untuk dijadikan gabah harga pasarannya Rp9 ribu per kg. Tapi kalau pagi 3 anakan ini, orang beli Rp20 ribu per kg. Jadi keunggulan padi 3 anakan, produksinya bisa sampai tiga kali lipat, lebih berat, dan harga lebih tinggi,” kata Ruhadi.

Untuk diketahui, luas lahan persawahan di Kota Palopo yakni 2.700 hektar. Lahan terluas di Kecamatan Telluwanua seluas 1.850 hektar. Di Kecamatan Wara 110 hektar, Mungkajang hanya 60 hektar. Makanya, Kadis Pertanian Palopo ngotot agar lahan pertanian yang ada di Palopo saat ini, tidak dialihfungsikan menjadi lahan pemukiman atau industri.

”Dasar saya adalah Undang-undang Nomor 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Undang-undang ini mengatur, lahan persawahan yang ada sekarang, harus dipertahankan sebagai lahan pertanian pangan. Malah kalau bisa, lahan yang ada ditambah dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tambah Harisman. (ikh/palopopos)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!