Bangkit dari Trauma, Pedagang Pasar di Palu Kembali Berjualan – FAJAR –
Daerah

Bangkit dari Trauma, Pedagang Pasar di Palu Kembali Berjualan

INT

FAJAR.CO.ID, PALU – Masyarakat Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) tidak mau lama-lama larut dalam ketakutan dan duka. Mereka berupaya bangkit dan ingin menata hidup lagi.

Upaya bangkit dari bencana gempa itu terlihat dengan mulai beroperasinya dua pasar tradisional di daerah tersebut. Pasar Masomba dan Pasar Manonda namanya. Beroperasinya dua pasar tradisional tersebut menunjukkan perekonomian di kota itu mulai pulih.

Nurjanah, 45, salah seorang penjual buah di Pasar Masomba mengaku mulai berjualan sejak Sabtu (6/10). Perempuan dua anak itu mengaku terpaksa meningkatkan nyalinya berjualan sepekan pascagempa lantaran buah-buahan yang dijualnya akan membusuk.

“Harus berjualan untuk hidup sehari-hari. Saya ki’ berjualan biar pe’ buah itu tak busuk,” kata Nurjanah saat ditemui di pasar induk Masomba, Rabu (10/10).

Meskipun ibu kota Sulteng tersebut sudah berangsur-angsur pulih, namun daya beli masyarakat masih terbilang rendah. Terbukti ada penurunan omzet yang cukup signifikan.

“Masih sedikit sekali pe’ yang beli itu buah kita. Jauh sekali turun untungnya. Biasanya sehari bisa Rp 1-Rp1,8 juta. Sekarang paling-paling hanya Rp 300 ribu sehari,” tuturnya.

Kendati demikian, Nurjanah mengaku cukup beruntung karena tak ada satu pun keluarganya menjadi korban gempa dan tsunami. Hanya saja dua motor miliknya raup digondol orang tak bertanggung jawab. Dia tidak mengerti sepeda motornya dicuri atau dijarah.

Senada dengan Salmah, 38. Pedagang sayur di Pasar Manonda mengaku terpaksa berdagang. Pasalnya sayur-mayurnya tidak akan tahan lama untuk dijual.

“Ini ky kita punya sayur itu takut busuk kalau tidak dijual. Jadi hanya seminggu e’kita libur jualnya,” ucap Salmah.

Untuk omzet penjualan sayur, Salmah mengaku cukup berkurang banyak pemasukannya. Omzetnya hanya sampai 30 persen dari laba yang ia dapatkan sehari-hari. Total pendapatannya tersebut berjumlah Rp 200.000-Rp 300.000 per hari.

“Turun lumayan banyak bisa sehari hanya Rp 200ribu -Rp 300 ribu sehari. Biasanya bisa Rp 800 ribuan lebih,” ungkap Salmah.

Salmah juga mengaku dengan berjualan itu bisa mengobati anaknya yang masih mendapat perawatan di RS Bhayangkara akibat terkena atap rumahnya sendiri.

“Ini saya lakukan juga demi Aco, anak saya yang kena atap rumah. Kepalanya bocor dan masih dirawat di RS,” jelas Salmah.

Suasana di Pasar Masomba dan Pasar Manonda masih terbilang lenggang. Namun tampak banyak penjualan sudah melakukan aktifitasnya dengan berjualan sayur, buah, kelapa parut, ikan, ayam potong, warung kelontong. (rdw/JPC)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!