Cuaca Panas Ekstrem Disebabkan Radiasi Matahari – FAJAR –
Sulsel

Cuaca Panas Ekstrem Disebabkan Radiasi Matahari

Annisa Puspa Rani

FAJAR.CO.ID, PALOPO — Musim kemarau dan cuaca ekstrem berupa hawa panas melanda wilayah Indonesia, tak terkecuali Luwu Raya. Tak hanya pada siang hari, di malam hari pun cuaca terasa panas dan gerah.

Terkait hal tersebut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Luwu Raya melalui forecaster, Annisa Puspa Rani kepada Palopo Pos (FAJAR group), Senin 8 Oktober 2018, lalu mengatakan, hal tersebut terjadi dikarenakan kenaikan suhu permukaan bumi. Hal ini dikarenakan oleh radiasi matahari.

”Selain dikarenakan radiasi matahari, juga disebabkan oleh kandungan uap air di udara yang menahan radiasi dari permukaan bumi keluar kembali ke angkasa,” jelas Annisa ketika dihubungi.

Menurutnya, posisi matahari pada bulan September berada tepat di ekuator, dan sedang bergerak menuju belahan bumi selatan.

”Jika di malam hari terasa panas dan gerah biasanya karena banyak awan itu, sehingga panas dari permukaan bumi tertahan. Makanya biasanya kita rasa gerah meski malam hari,” jelas perempuan berhijab ini.

Annisa menjelaskan intensitas curah hujan di wilayah Kota Palopo dan wilayah Luwu Raya lainnya seperti Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara mulai berkurang. Namun, iklim di Kota Palopo, dan Luwu Raya masuk ke dalam iklim non-ZOM. Yakni jika dilihat dari pola rata-rata curah hujan bulanannya tidak dapat diklasifikasikan mana musim hujan dan mana musim kemarau.

”Seluruh wilayah Luwu Raya umumnya termasuk ke dalam kategori sangat pendek (yaitu 1-5 hari selisihnya tidak ada hujan), kecuali wilayah Luwu Timur masuk ke dalam kategori pendek (dalam waktu 6 hari hingga 10 hari tidak ada hujan),” sebutnya.

Annisa mengungkapkan, secara umum curah hujan seluruh wilayah di Luwu Raya berkurang dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Ia menjelaskan dibanding tiga tahun terakhir, musim kemarau tahun 2018 ini relatif lebih normal atau tidak ada fenomena alam yang berpotensi mengubah pola curah hujan di Indonesia.

“Dibanding tahun 2015, 2016, dan 2017, tahun ini tidak terlampau ekstrem. Tidak seperti ketika 2015 ada (fenomena) el-nino, kalau sekarang lebih normal,” imbuhnya.

Annisa menyatakan musim kemarau bukan berarti tidak turun hujan sama sekali. Faktanya di beberapa daerah masih terjadi hujan, meski di sebagain daerah lain curah hujan sudah berkurang.

“Musim kemarau bukan berarti zero rain. Mungkin di beberapa tempat masih ada air, namun ada juga yag berkurang,” tandasnya. (rhm/palopopos/fajar)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!