Data Pasokan Beras Tak Valid, Berdampak Harga Beras Tinggi


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Harga beras periode September 2018 mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan terjadi pada beras kualitas premium, medium, dan rendah. Klaim validitas data terjadi swasembada beras karenanya lagi-lagi menjadi pertanyaan.Klaim swasembada dan kenaikan harga beras juga disoroti oleh Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto. Seringnya Kementerian Pertanian membuat klaim swasembada terkait berbagai komoditas pertanian, dinilai membingungkan masyarakat.Pasalnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, justru menyiratkan adanya kekurangan dari sisi produksi. Jika terus dibiarkan, kekhawatiran membuat kebijakan dari data yang salah, sangat mungkin terjadi.“Berbahaya untuk misleading kebijakan. Jadi kayak impor atau nggak impor. Terus kestabilan harganya juga jadi terganggu. Secara umum ini sangat mengganggu,” tegas Eko.Menurutnya, kaim swasembada berpotensi membuat terlena, sehingga kerap menghasilkan kebijakan yang tidak tepat. Ia mencontohkan, Kementan menyatakan kebutuhan surplus, sehingga kebijakan impor tidak menjadi pilihan.Namun di lapangan, produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri membuat harga meningkat. Alhasil, kebijakan untuk ‘memadamkan kebakaran’ kerap jadi pilihan terpaksa. Padahal, suatu kebijakan harus dirancang sedemikian rupa dalam waktu yang cukup.Mengenai polemik impor beras, Eko berpandangan, harusnya hal ini tidak perlu terjadi karena apa yang diputuskan di rakor harusnya dijalankan oleh seluruh kementerian terkait.“Saya sendiri sebenarnya nggak setuju sama adanya impor, tapi kalau sudah diputuskan ya harusnya dipenuhi,” tegasnya.

Komentar

Loading...