Polri Sita 2,7 Ton Ganja, Ladangnya di Perbukitan Langsung Dimusnahkan – FAJAR –
Kriminal

Polri Sita 2,7 Ton Ganja, Ladangnya di Perbukitan Langsung Dimusnahkan

Tim gabungan yang dipimpin Dittipid Narkoba Bareskrim Polri memusnahkan ladang ganja di wilayah Aceh, Kamis (11/10). (DITTIPID NARKOBA BARESKRIM POLRI FOR INDOPOS/Jawa Pos Group)

FAJAR.CO.ID, ACEH – Ladang ganja di Aceh belum habis. Hal itu terbukti saat Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipid Narkoba) Bareskrim menyisir perbukitan di Desa Sawang, Aceh Utara, serta Desa Lamteuba dan Gunung Seulawah Agam, Aceh Besar. Hasilnya fantastis. Ditemukan tiga hektare ladang ganja.

Saat dihitung, setidaknya ada 2,7 ton ganja di tempat tersebut. Dirtipid Narkoba Bareskrim Brigjen Eko Daniyanto menjelaskan, ladang ganja itu ditemukan pada 2 Oktober lalu. Sejumlah petugas menaiki bukit dan gunung untuk menemukan ladang tersebut. “Jumlah ganja yang mencapai 2,7 ton itu cukup besar,” paparnya kemarin.

Selain tanaman ganja, ada ganja siap edar yang ditemukan di pondokan di tengah ladang. Seluruh narkotika tersebut dimusnahkan sekaligus dengan pondokannya. “Karena daerahnya cukup ekstrem, untuk menemukan pemilik ladang ganja itu perlu waktu,” jelasnya.

Sementara itu, Wadirtipid Narkoba Bareksrim Kombespol Krisno Siregar mengatakan, bukan hanya pemilik ladang, pemodal dan pengemas ganja juga akan diproses hukum. “Yang penting, ladangnya bisa dimusnahkan dulu sehingga mencegah ganja itu beredar,” tutur dia.

Di Aceh, harga 1 kilogram ganja Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga tersebut sangat murah bila dibandingkan dengan kota lain. “Itu yang membuat bandar tergiur. Namun, itu sebenarnya sampah, tidak ada nilainya,” ungkapnya.

Menurut dia, saat ini sudah ada upaya untuk mengalihkan penanaman ganja ke tanaman produktif. Namun, ada hambatan. Saat lahan ditanami palawija, ternyata tidak ada yang mau menampung hasil panen.

“Nggak bisa dijual, tidak ada yang mau,” ungkapnya.

Karena itu, program alih tanam perlu dimaksimalkan. “Dengan begitu, tidak hanya menanam, namun perlu mencari saluran penjualan,” papar dia.

Bisa diketahui, sebenarnya penyebab utama maraknya ganja di Aceh adalah kesejahteraan petani yang kurang. Karena itu, petani di Aceh harus dibantu untuk lebih sejahtera. “Kalau petani kaya karena tanaman lain, tentu nggak mau menanam ganja,” imbuh Eko. (idr/c11/oni/jpc)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!