Teror Gedung DPR, Alhabsyi Minta Dilakukan Uji Balistik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus penembakan gedung DPR-RI pada Senin (15/10) di lantai 13-16 dan penemuan dua bekas tembakan pada, Rabu (17/10) di lantai 10 dan 20 menyisakan polemik panjang.

Pasalnya, penembakan yang diklaim oleh aparat kepolisian Polda Metro Jaya sebagai peluru nyasar ini, agak sedikit janggal dengan jenis senjata atau pistol yang digunakan oleh pelaku penembakan. Bahkan, kejadian ini bukan pertama kali terjadi, tapi sudah terjadi dua kali dengan alasab yang sama, yakni peluru nyasar dari lapangan tembak Perbakin.

“Ini bukan kasus pertama ada peluru nyasar ke DPR, tahun kemarin kejadian serupa juga mengenai TB Hasanudin. Sampai saat ini diyakini bahwa peluru tersebut berasal dari lapangan tembak senayan. Bahkan untuk dua kasus terakhir sudah ada dua orang yang dijadikan tersangka,” kata Anggota Fraksi III DPR-RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Alhabsyi lewat rilisnya, Rabu (17/10).

Politisi asal Kalimantan ini mengaku tidak yakin dengan jenis senjata yang digunakan oleh pelaku saat menggelar latihan menembak. Diketahui, pelaku menggunakan jenis senjata glock 17 yang memiliki daya tempuh 50 sampai 300 meter. Sementara jarak gedung DPR dan lapangan tembak sangat jauh dan ada beberapa penghalang di wilayah gedung. Olehnya itu, Alhabsyi menyarankan agar perlu dilakukan uji balistik untuk mengetahui hasil sebenarnya.

“Saya sendiri kurang yakin bahwa senjata laras pendek sejenis Glock 17 bisa melesatkan peluru sejauh itu. Apalagi bisa nyasar sampai lantai 13 dan 16. Apa memang senjata jenis itu memiliki daya jangkau sampai dengan setengah kilo. Saya rasa ini perlu dilakukan uji balistik untuk meyakinkan, sehingga tidak menimbulkan spekulasi,” pintanya.

“Jika memang hal tersebut terbukti, perlu ada penataan yang lebih bagus di lapangan tembak senayan. Misalkan saja, pengetatan jenis senjata yang bisa dipakai, yaitu jenis senjata khusus olahraga yang jangkauannya tidak terlalu jauh,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Ketua DPP PKS itu, perlu adanya pendampingan khusus oleh pelatih saat berlangsungnya latihan menembak, dan perlu dilakukan kontrol yang super ketat juga terkait penggunaan senjata.

“Aspek kehati-hatian dan keselamatan harus menjadi prioritas. Karena yang dilakukan adalah memegang senjata api, sehingga perlu kontrol ekstra untuk menjamin keselamatan orang disekitar,” tutupnya. (RBA/FIN)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...