Langgar Larangan Demi Mengisi Perut

Kamis, 18 Oktober 2018 - 09:55 WIB

Kerasnya hidup demi mencari sesuap nasi, mengharuskan dirinya tetap bekerja seadanya meski melanggar aturan yang dikeluarkan pemerintah.

Laporan: ARIF AL QADRY (BKM), Makassar 

SUBUH menjelang pagi, Kadir Kadir Daeng Dongko mulai mengisi botol-botol kacanya dengan bensin. Ia membeli bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di dekat warungnya di Jalan AP Petta Rani. Meski dinilai ilegal, Kadir tetap memberanikan diri berjualan bensin botolan.

Bahkan, ia tetap bertahan meski teman-temannya sudah beralih ke bisnis bensin Pertamini.”Mau bagaimana lagi, kalau tidak kerja pasti lapar. Apalagi, pekerjaan saat ini sangat susah,” ujar Kadir kepada penulis.

Memang diakuinya BBM atau bahan bakar minyak menjadi kebutuhan pokok bagi semua manusia. Salah satunya adalah bensin. Dalam kehidupannya manusia membutuhkan bensin ini sama halnya dengan kebutuhan pokok mereka sandang,pangan, papan.

Bensin menjadi penting karena untuk menjalankan kendaraan bermotor mereka demi mencari rezeki atau bekerja yang hasilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seiring berjalannya waktu semua orang memilih untuk memiliki kendaraan bermotor sendiri, mereka sudah tidak mau naik angkutan umum karena dianggap lama dan tidak bisa bebas.

Dengan demikian bensin akan menjadi kebutuhan jangka panjang tidak akan pernah habis selama masih ada kendaraan bermotor di dunia ini.

Bahkan, kata Kadir, permintaan akan bensin semakin hari semakin meningkat, bahkan masalah harga pun tidak begitu dipedulikan oleh konsumen. Karena mereka berfikir yang penting saya mendapat bensin.

”Usaha ini tetap bertahan dek, karena saat ini banyak orang yang tidak memiliki banyak waktu dan mereka pun sibuk dengan segala aktivitasnya. Mereka tidak akan mau antri di Pom bensin karena lama, maka mereka lebih suka untuk membeli bensin botolan karena lebih cepat dan praktis,” ujar Kadir.

Kadir menambahkan, rata-rata pengendara hanya mengisi satu dan paling banyak dua botol. Seusai perkiraannya untuk bisa sampai ke SPBU mengisi lebih banyak lagi bensin di tanki kendaraannya.

Harga bensin premium dijualnya Rp10.000 per botol, sama dengan harga Pertalite Rp10.000 per botolnya.
Pria kelahiran Jeneponto, 20 Januari menggunakan cara mengisi full tanki motornya ketika masuk ke SPBU.

Cara ini dilakukan sudah dua tahun, setelah dibatasinya pembelian BBM dengan jumlah banyak dan menggunakan jerigen. Tanki motornya yang telah berisi bensin full, itu kemudian dipindahkan ke botol-botol bensin dan jerigen menggunakan selang kecil. Dalam sehari dapat dilakukan satu kali.

“Dalam satu hari cuma satu kali ji biasanya saya ke SPBU isi full bensin motorku yang berkapasitas 10 liter. Kalau stock masih banyak, saya tidak ke SPBU. Tergangtung ji dengan stok yang ada,” sebutnya.

Penjualan bensin botolan ecerannya dalam sehari tidak menentu. Sedikitnya lima botol bensin dan paling banyak 20 botol bensin bisa laku terjual setiap hari. Uangnya dia simpan untuk modal membeli bensin kembali dan lebihnya digunakan menutupi kebutuhan hari-harinya.

Cara manajemen itu dilakukan bapak tiga orang anak itu sudah 20 tahun lebih. Bahkan dengan cara itu dia mampu memiliki usaha lain seperti penggantian ban dalam motor, membeli alat tambal ban, dan juga makanan ringan dan minuman yang dijualnya.

“Awal usaha saya dulunya kecil hanya tambal ban dan jualan bensin. Tapi syukur bisa buka warung-warung kecil juga berkat putar-putar uang yang masuk,” tambahnya.

Munculnya Pertamini aku Kadir, sama sekali tidak terasa pengaruhnya. Masih banyak pengendara motor memilih singgah dan membeli bensin botolannya. Karena bensin botolan dan pertamini perbedaannya cuma di tempatnya saja.

“Tidak berpengaruh ji adanya pertamini. Cuma tempat ji saja yang membedakan. Bensin botolan lebih simpel dan bisa langsung pembeli tuangkan kalau terburu-buru dan semua sama ji,” tutupnya. (arf/bkm/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.