Anak Petani yang Raih IPK 3,97 di UNM Makassar – FAJAR –
Feature

Anak Petani yang Raih IPK 3,97 di UNM Makassar

Hendra Saputra (bkm)

UNIVERSITAS Negeri Makassar (UNM) kembali menghasilkan sarjana baru. Sebanyak 1.000 orang diwisuda di lantai I Gedung Pinisi, Rabu (7/11). Hendra Seputra menjadi wisudawan terbaik.

 

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

MENJADI satu-satunya anak yang diharapkan orang tua untuk mengangkat derajat keluarga dari segi pendidikan, membuat Hendra Saputra berjuang keras. Alhasil, ia didaulat sebagai yang terbaik di UNM pada periode wisuda November 2018-2019.

Hendra lahir di Mamuju, Sulawesi Barat, 30 Maret 1996. Masuk kuliah di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM pada tiga tahun 11 bulan lalu.

Di ujung kuliahnya, ia membukukan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97. Tertinggi di antara para wisudawan lainnya.

Hendra lahir dari ayah yang bekerja sebagai petani. Sementara sang ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Kenyataan ini membuatnya harus memenuhi kebutuhan sehari-harinya dari bekerja sambil kuliah. Walaupun sebenarnya biaya kuliahnya berasal dari orang tuanya. Selama kuliah, Hendra terkadang membuat video pesanan untuk menambah biaya memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Saya kadang buat video media pembelajaran. Kalau ada yang pesan begitu. Lumayanlah untuk tambah-tambah. Di sini saya merantau. Saya tentu harus bertanggungjawab atas materi untuk diri saya,” kata Hendra.

Kedua orang tua Hendra begitu bangga dengan pencapaian anaknya. Sebab, dari semua saudara-saudaranya, hanya dirinyalah yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S1.

“Dari keluarga, hanya saya yang kuliah. Dua kakak saya, yang pertama dan kedua sudah meninggal sebelum mereka kuliah. Sedangkan kakak saya yang ketiga sudah menikah. Tidak sempat kuliah. Jadi hanya saya yang diharapkan untuk bisa selesai kuliah,” ucapnya ditemui usai prosesi wisuda.

Yang sangat ia syukuri, karena kedua orang tuanya selalu berusaha agar dirinya bisa menempuh pendidikan, walau terkadang mereka tak punya uang. Tidak salah jika penghargaan sebagai wisudawan terbaik, dipersembahkan untuk keduanya.

”Ketika mereka tidak punya apa-apa, selalu saja berusaha untuk mencari biaya jika itu demi pendidikan. Inilah yang membuat saya harus punya tanggung jawab selama kuliah di Makassar. Alhamdulillah, penghargaan ini saya persembahkan untuk orang tua,” tambahnya.

Berhasil menjadi wisudawan terbaik, ternyata Hendra bukan hanya mementingkan kuliahnya semata. Ia juga aktif di sejumlah organisasi dan komunitas. Kegiatan padat ini pun berhasil ia lakoni dengan baik. Hendra membuktikan bahwa organisatoris juga bisa meraih nilai akademik yang tinggi.

Terhitung, Hendra pernah tercatat sebagai pengurus di Humpunan Mahasiswa Teknologi Pendidikan dan di BEM FIP UNM. Selain itu, ia juga tergabung di komunitas pegiat pendidikan bernama Sekolah Cendikia Pesisir. Biasanya memberikan pengajaran kepada anak-anak di pulau.

Di bagian akhir wawancara, Hendra berpesan kepada juniornya yang saat ini sedang menempuh perkuliahan. Menurutnya, semua yang masih menempuh pendidikan harus bertanggungjawab atas apa yang sudah dipercayakan orang tua mereka nun jauh di kampung halaman.

“Belajar dengan baik itu yang utama,” kuncinya. (*/rus/bkm)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!