Andi Depu, Pejuang Perempuan Berdarah Biru Asal Tanah Mandar – FAJAR –
Nasional

Andi Depu, Pejuang Perempuan Berdarah Biru Asal Tanah Mandar

Andi Taufan, Ahli Waris Tokoh dari Provinsi Sulawesi Barat Ahli Waris Almh. Agung Hajjah Andi Depu menerima gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11). (Raka Denny/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh yang tersebar di berbagai wilayah, Kamis (8/11).

Satu dari enam pahlawan ‘baru’ itu adalah pejuang perempuan yang berasal dari tanah Mandar, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Dia adalah Agung Hajjah Andi Depu.

Andi Depu berjasa besar mengusir penjajah pasca kemerdekaan. Lahir di sebuah Desa di Kecamatan Tinambung, Polman, Agustus 1908, Andi Depu kecil banyak mengahbiskan waktu laiknya anak-anak sebayanya.

Tumbuh besar di dalam keluarga berdarah biru, membuat putri dari pasangan raja Mandar ke-50 Lajju Kanna Idoro dan Samaturu itu sangat disegani oleh masyarakat setempat. Lantaran kesederhanaan dan kesetiannya, Andi Depu begitu dikagumi.

Memasuki masa remaja, Andi Depu kemudian diangkat sebagai pemimpin Kris Muda Mandar. Kelompok gerakan masyarakat Mandar kala itu. Andi Depu menjadi satu-satunya pemimpin perempuan di organisasi yang begitu disegani Belanda dan Jepang.

“Beliau salah seorang pejuang yang waktu itu termasuk di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Mandar. Jadi beliau memimpin organisasi gerakan perlawanan yang dibentuk, Kris Muda Mandar untuk mengusir penjajahan Belanda dari Indonesia di tanah Sulawesi. Sebagian besar bahkan seluruh Sulbar sampai Sulsel juga waktu itu,” terang sejarawan Indonesia, Dr Anhar Gonggong.

Melalui Netherlands- Indies Civil Administration (NICA), Belanda yang dibentuk tahun 1944, mengekspansi wilayah-wilayah produktif di Sulbar, Sulsel, hingga sebagian besar Sulawesi. Andi Depu menunjukkan kegigihannya mempertahankan bumi pertiwi. Didikan tegas, berwibawa nan santun dari lingkungan Istana Kerajaan Mandar, membuat sosok Andi Depu tak gentar melawan penjajah.

“Jadi beliau sebagai Maradia (keluarga raja kerajaan Mandar) waktu itu ditunjuk langsung, sebagai perempuan pertama yang memimpin organisasi terbesar di Sulbar. Beliau tampil sebagai pemimpin perlawanan. Dari situ beliau juga disebut oleh masyarakat Mandar sebagai Ibu Agung karena keberanian dan jiwa kepemimpinannya untuk rakyat,” jelas Anhar.

Memasuki detik-detik ketika Indonesia hendak memproklamirkan kemerdekaan, sebagian besar organisasi-organisai perjuangan rakyat di Sulsel dan Sulbar mengagendakan untuk melakukan pertemuan. Kris Muda Mandar di bawah komando Andi Depu bersama sejumlah pejuang Sulsel seperti Andi Mappanyukki dari Bone; Andi Djemma dari Luwu, menyiasati dan menyusun strategi khusus untuk mengusir penjajah.

“Semua ini kan karena penderitaan, karena merasa kalau hak-haknya diambil, ditindas, diperlakukan sewenang-wenang, disiksa. Malah setelahnya merdeka, ada pembuhuhan Westerling juga di Mandar. Ada kurang lebih seratusan juga yang terlibat dalam peperangan di dalamnya. Termasuklah di dalamnya pejuang-pejuang ini,” imbuh Sejarawan Universitas Indonesia tersebut.

Sejarah Andi Depu untuk mempertahankan Indonesia, khususnya masyarakat Sulbar dari penjajahan dikenang melalui Monumen Merah Putih Andi Depu di Tinambung, Polman. Anhar mengatakan, di luar kisah singkat perjuangannya, Menpan RB Syafruddin masih satu garis keturunan dengan Andi Depu. Mantan Wakapolri itu masih sepupu satu kali dari Andi Depu.

“Itu tadi saya ketemu, dia (Syafrudin) ngomong ke saya, masih sepupu satu kali. Ayahnya dia dengan ibunya Andi Depu itu bersaudara,” pungkas Anhar. (rul/JPC)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!