Prakter Prostitusi Kerap Libatkan Mahasiswi, Akademisi: Pengguna Konten Medsos Tidak Cerdas

Rabu, 21 November 2018 - 11:37 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Maraknya praktek prostitusi secara terang-terangan disekitar kita, dimana sebagian melibatkan mahasiswi atau biasa dikenal sebagai ayam kampus, masih banyak ditemukan.

Kehadiran mereka ada di kampus-kampus negeri ataupun swasta semakin hari, makin banyak mahasiswi yang secara sadar atau pun tidak terlibat dalam praktek tersebut.

Hal ini pun juga tak luput dari pandangan salah seorang dosen pengajar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, Dr Arifin Manggau SPd MPd.

Menurutnya, maraknya praktek prostitusi yang melibatkan mahasiswi tidak lain penggunaan media sosial yang tidak cerdas, dengan menggunakan konten-konten secara negatif yang ada pada android tersebut.

Sebagai contoh, lanjutnya, banyaknya aplikasi yang mampu menghubungkan dengan pengguna lainnya, bukan tidak mungkin para pelaku yang nakal akan berusaha memanfaatkan konten tersebut mencari kesenangan dan membuat korbannya nyaman, dengan obrolan yang sifatnya merayu agar mendapat kesempatan untuk melancarkan aksinya.

“Saat ini rawan bagi kaum hawa sekaitan akan kasus seperti ini (ayam kampus), akibat perkembangan IT berbasis aplikasi android yang bisa menyesatkan jikalau tidak memahami benar fungsi-fungsinya. Korban bisa saja adalah bagian dari aplikasi itu sementara pelaku, hanya bermodalkan kepandaian menggunakan aplikasi itu untuk menjerat korban dalam rayuan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, menurutnya, hal tersebut bisa terus berlanjut karena selama ini praktek tersebut sebagian besar dilakukan di beberapa tempat penginapan misalnya hotel, wisma, dan lain-lainnya, yang tidak memiliki pengawasan yang ketat.

Sehingga, kurangnya pengawasan di tempat sewa inap tersebut semakin membantu para mahasiswi untuk terlibat prostitusi. Selain itu, tempat penginapan tersebut kerap kali digunakan untuk hal-hal negatif lainnya, seperti pesta sabu dan sex, yang berakhir pada kejadian kriminalitas seperti pembunuhan.

“Bahkan dibeberapa berita ada selama sebulan sudah mendiami kamar dihotel, yang seharusnya pihak hotel mesti lebih teliti dengan keadaan tamunya yang menginap selama satu bulan,” ucapnya.

“Pihak hotel harus lebih aktif untuk mewaspadai tamunya sebagaimana yang terjadi saat ini, ditemukannya korban penikaman dan seperangkat barang haram padahal ada peraturan dalam undang-undang perhotelan tentang narkotika,” lanjutnya.

Lebih jauh ia menambahkan praktek tersebut juga ditimbulkan akibat beberapa faktor diantaranya faktor pergaulan, faktor ekonomi, pengaruh gaya hidup dan banyak hal lagi yang memungkinkan mahasiswu terjerat pada kasus yang sama. (ade/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.