Dilarang Pakai Pukat Harimau, Nelayan di Bone Dua Bulan Tak Melaut

FAJAR.CO.ID, BONE — Sejumlah nelayan di Kecamatan Salomekko sudah dua bulan tak melaut. Semenjak dilarang menggunakan alat tangkap trawl atau jaring pukat harimau mereka kesulitan melaut.

Ketua Asosiasi UKM Mutiara Timur Hasida Lipoeng pun sebenarnya berharap ada solusi untuk kesulitan tersebut. Nelayan-nelayan di kacamatan tersebut sudah terbiasa dengan alat tangkap trawl. Ia pun meminta pemerintah kabupaten (pemkab) bisa aktif memberikan pemahaman dan usulan alat tangkap yang terbaik.

“Kami ingin solusi alat tangkap apa yang bisa digunakan. Karena nelayan sudah mencoba menggunakan alat tangkap yang baru tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Nihil,” ungkap Haslida. Pihaknya pun pun telah mengadu ke kantor bupati.

Ia menyebutkan, perekonomian di Salomekko nyaris lumpuh. Itu lantaran sebagian besar warganya hanya mengandalkan profesi nelayan sebagai mata pencahariannya. Tak ada keahlian khusus yang mereka miliki selain melaut. “Jadi perlu ada solusi dan perhatian melihat sama-sama menguji coba alat tangkap itu,” imbuhnya.

Bupati Bone Andi Fahsar M Padjalangi pun menganggap aturan penggunaan itu sudah menjadi ketetapan yang mesti dipenuhi. Keputusan bukan dari pemkab melainkan pemerintah pusat. Tentu saja, pelarangan tersebut mengacu pada kelangsungan makhluk laut yang selama ini menjadi mata pencaharian para nelayan. (mam)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : irwan kahir

Comment

Loading...