BMKG: Waspada Bahaya Berteduh di Bawah Pohon

Sabtu, 24 November 2018 - 08:35 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Memasuki musim penghujan, sebagian wilayah di Sulsel harus bersiap diguyur hujan intensitas sedang hingga deras serta angin kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar pun mengimbau masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon.

Imbauan tersebut disampaikan Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Siswanto saat dihubungi BKM, Jumat (23/11). Menurut Siswanto, masyarakat tetap waspada jika langit sudah tampak gelap dan akan hujan lebat. Walaupun diprediksi dalam jangka waktu dekat tidak terjadi angin kencang, namun kondisi awan bisa sewaktu-waktu berubah.

“Saat ini masih cukup aman, biasanya angin kencang pas puncak hujan. Tapi kita juga perlu waspada, misalnya di Maros Sabtu kemarin itu kecepatan angin di sana sampai 41 knot. Jadi kalau hujan lebat jangan berteduh di bawah pohon, karena sampai saat ini masih banyak pohon di Makassar yang menjulang ke jalan dan terlihat rapuh. Angin kencang menurut riwayat, biasanya terjadi sore hari,” imbau Siswanto.

Siswanto menambahkan, dalam satu pekan kedepan, wilayah Makassar diperkirakan hanya akan terjadi hujan dalam intensitas ringan. Namun intensitas tersebut akan semakin meningkat secara perlahan dari hari ke hari selanjutnya. Puncaknya sendiri dikatakan Siswanto akan terjadi sekitar bulan Desamber atau Januari nanti.

“Hujan perlahan-lahan akan meningkat. Setiap hari mulai ada peningkatan. Puncaknya nanti di Desember hingga januari dimana distribusi dan durasinya yang akan meningkat, terutama di pesesir barat mulai meningkat Desember,” jelas Siswanto.

Kondisi serupa pun hampir merata di setiap daerah di Sulsel. Namun untuk hari ini (kemarin-red), Jumat (23/11), intensitas hujan akan lebih signifikan di beberapa wilayah bagian selatan Sulsel. Seperti di Takalar, Gowa, Jeneponto, dan Bantaeng. Siswanto pun memprediksi, pada siang hingga sore, intensitas hujan berada pada sedang hingga lebat.

Untuk kondisi angin, Siswanto menjelaskan jika kecepatan angin saat ini masih berubah-ubah. Berdasarkan pantauan BMKG, awan Comulunimbus saat ini juga sudah mulai terbentuk di langit Makassar dan Sulsel secara keseluruhan. Nah jika awan ini sudah mulai banyak terbentuk, maka sudah akan mulai terjadi angin kencang.

Dalam jangka waktu dekat ini, Siswanto mengatakan masih cukup aman dari angin kencang. Biasanya angin kencang sendiri akan intens terjadi saat puncak hujan yang diperkiralam pada Desember maupun Januari.

Siswanto mengatakan, angin kencang di Makassar sendiri diperkirakan tidak akan separah yang terjadi di benerapa daerah. Hal ini dikarenakan lahan di Makassar sudah terlalu rapat. Bangunan yang sudah cukup banyak ada di Makassar akan sedikit memecah angin. Berbeda dengan di Maros, Jeneponto, Barru, Wajo, dan Sidrap yang memiliki riwayat angin kencang cukup ekstrim mengingat disana masih banyak tanah lapang.

Sebelumnya Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar, Bahar Cambolong mengatakan, masih ada empat wilayah masih memiliki pohon kayu tua. Adalah Jalan Monginsidi, Jalan Cendrawasih, Jalan Bandang dan di Jalan Perintis. Mayoritas poho jenis tarmbesi, mahoni, dan angasana di wilayah tersebut masih berdiri di jalan tersebut.

“Kami imbau masyarakat waspada pohon tumbang saat musim hujan. Jangan parkir kendaraan di bawah pohon diwaktu seperti sekarang dan ketika hujan. Sementara kami terus turunkan tim melakukan pemangkasan pohon yang kami anggap membahayakan dan rawan,” jelasnya.

Barcam sapaan akrabnya menambahkan, pohon tumbang di saat musim hujan menjadi perhatian serius bagi dinasnya. Salah satu yang aktif dilakukan adalah memangkas pohon-pohon kayu lapuk di semua wilayah di Makassar.

“Pemangkasan ini sudah kami lakukan sejak 2017 lalu jadi tentu kami harapkan tidak ada lagi pohon kayu tumbang di Makassar. Kalaupun ada, paling satu atau dua. Namun kembali lagi semoga tidak ada terjadi pohon tumbang apalagi sampai memakan korban,” sebutnya.

Sepanjang tahun 2018 ini, data sementara kasus pohon tumbang di Makassar jumlahnya jauh lebih sedikit dari tahun 2017. Dari Januari sampai November 2018, pohon tumbang yang terjadi hanya 91 kasus. Sementara di 2017 terjadi 204 kasus sejak Januari sampai Desember.

“Kami harapkan sampai Desember tahun ini kasus pohon tumbang sedikit. Karena ada beberapa titik wilayah yang banyak pohon besar lapuknya itu sudah kami tebang atau pangkas,” tambahnya.

Anggota Komisi A Bidang Hukum Pemerintahaan DPRD Kota Makassar, Irwan Djafar mengatakan, pemerintah kota harus segera turun melakukan upaya pencegahan terjadinya pohon tumbang saat musim hujan. Apalagi tahun-tahun sebelumnya cukup banyak terjadi pohon tumbang di Makassar.

“Harus ada pencegahan dilakukan dari pemerintah kota melalui dinasnya. Pencegahannya yang dapat dilakukan bisa dengan memangkas pohon-pohon yang dinilai rawan tumbang. Sehingga tidak ada korban tertimpa pohon di jalanan,” kata Irwan.

Sangat penting bagi Irwan, semua pohon kayu tua yang keropos dan lapuk dipotong. Itu dilakukan agar pohon-pohon tidak tumbang saat terjadi angin kencang saat hujan. Dan kontrol ini harus aktif dilakukan khususnya menghadapi musim hujan tahun ini. (nug/bkm/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.