44 Perempuan Dibunuh Pasangannya di Spanyol Tahun Ini

Selasa, 27 November 2018 - 15:37 WIB

FAJAR.CO.ID – Di hampir seluruh kota besar Eropa hari Minggu (25/11) digelar aksi menandai Hari Internasional PBB untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Di Spanyol, ratusan hakim dilatih menangani kasus-kasus tersebut.

Presiden Parlemen Eropa Antonio Tajani membuat garis merah di bawah matanya saat menghadiri KTT Brexit di Brussels ahri Minggu (26/11), tanda mendukung kampanye antikekerasan terhadap perempuan di Italia.

“Kekerasan terhadap perempuan tidak bisa diterima. Saya belajar ini dari ibu saya dan saya mengajarkannya kepada anak-anak saya,” tulis Tajani di Twitter.

Di Spanyol, aktivis menggalang aksi di lebih dari 40 kota. Puluhan ribu orang bergabung dalam aksi di pusat Ibu Kota Spanyol, Madrid. Menurut statistik resmi, tahun 2018 di Spanyol sudah 44 perempuan dibunuh oleh pasangannya. Sejak statistik itu dibuat tahun 2003, korban tewas karena kekerasan terhadap perempuan tercatat 999 orang, 27 di antaranya anak-anak.

Spanyol kini melatih lebih dari 600 hakim untuk menangani kekerasan gender. Pemerintah sedang bersiap mereformasi undang-undang tentang kejahatan seks, setelah aksi protes gencar aktivis anti kekerasan terhadap perempuan.

Tepat tanggal 25 November, PBB juga meluncurkan kampanye internasional 16 Hari Anti Kekerasan Gender, yang akan berakhir tepat pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember. Selama 16 hari, berbagai acara dan kegiatan akan digelar di seluruh dunia. Bangunan serta landmark akan diterangi cahaya oranye, termasuk gedung Deutsche Welle di Bonn. Motto kegiatan tahun ini adalah “Leave no one behind” (Jangan tinggalkan siapa pun di belakang).

 

Perempuan Kurdi protes pernikahan dini

 

Di kota berpenduduk mayoritas Kurdi Suriah, Qamishli, ratusan perempuan berunjuk rasa menyerukan diakhirinya kekerasan terhadap perempuan. Koresponden kantor berita AFP melaporkan, mereka berpegangan tangan berbaris di jalan-jalan.

“Pernikahan di bawah umur adalah kejahatan,” bunyi salah satu slogan yang diusung para pengunjuk rasa. Para demonstran mengusung gambar seorang wanita dengan mata bengkak, mulutnya ditutupi dengan satu tangan.

“Kami hari ini turun dalam jumlah besar,” kata Hanifa Mohammed, 47 tahun. “Perempuan harus ikut mengelola dan mencapai posisi pengambilan keputusan. “Mereka harus ikut menentukan masa depan mereka,” tandasnya.”

 

Berlin akan jadikan Hari Perempuan 8 Maret sebagai hari libur

 

Pemerintah Berlin mengumumkan mendukung usulan untuk menjadikan Hari Perempuan Internasional 8 Maret sebagai hari libur resmi. Langkah ini akan berarti bahwa pekerja di sebagian besar perusahaan swasta dan lembaga negara di Berlin akan mendapat libur.

Langkah yang diprakarsai Walikota Berlin, Michael Müller dan mendapat dukungan pemerintah negara bagian, yang merupakan koalisi dari Partai Sosialdemokrat SPD, Partai Kiri Die Linke, dan Partai Hijau Die Grünen.

 

Perempuan Turki gelar protes sekalipun dilarang

 

Ratusan perempuan berkumpul di Lapangan Tunel dan berpawai di kawasan utama Istiklal Avenue. Puluhan polisi membentuk barikade dan berusaha mencegah pawai itu dengan alasan, demonstrasi itu tidak diizinkan. Polisi gas air mata untuk barisan perempuan. Namun para pengunjuk rasa melanjutkan demonstrasi mereka dengan duduk di pusat kota.

Kelompok hak asasi manusia di Turki mengatakan, kekerasan terhadap perempuan tersebar luas di Turki. Data online Monument Counter menyebutkan, setidaknya 337 perempuan dibunuh tahun 2018 dalam kekerasan domestik.

 

hp/ml (dpa, afp, ap/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.