Butuh Proses Panjang dan Serius Bersihkan Lingkungan Masjid Dari Radikalisme

Selasa, 27 November 2018 18:03
Belum ada gambar

ILUSTRASI

“Mengubah sesuatu yang radikal menjadi tidak radikal, bukan pekerjaan sederhana. Kita meski sabar mendampingi masjid-masjid terpapar radikalisme. Soalnya radikalisme isu sensisitf di satu sisi, di sisi lain komplek. Karena itu pendekatan dan inisiasi kita harus benar-benar fix dan hati-hati terhadap masjid, jamaah, khatib. Itu penting agar jangan sampai melahirkan masalah baru,” papar Agus.Pada kesempatan itu Agus menjelaskan bahwa survei yang dilakukan P3M tahun lalu berdasarkan isi khutbah Jumat, bukan takmir atau penceramahnya. Survei itu dengan mengutus relawan untuk merekam suara khutbah dalam bentuk rekaman audio visual dan video. Dengan begitu suara itu memang benar suara yang ada di video sehingga hasilnya valid dan bisa dipertanggungjawabkan.Dari situ, lanjut Agus, P3M melakukan analisis isi khutbahnya saja, bukan takmir, bukan penceramah, sehingga pihaknya tidak tahu siapa khatib dalam rekaman tersebut. Untuk mendalami hasil survei itu tentunya butuh pendalaman. Namun paling tidak, hasil survei itu bisa menjadi peringatan bagi pemerintah agar peduli terhadap masjid yang berada di lingkungan pemerintahan.“Jangan sampai masjid-masjid itu dilepas bagitu saja dari pengendalian pemerintah. Istilahnya jangan sampai masjid diperlakukan seperti toilet. Airnya jalan, lantai bersih, semua berfungsi baik, tapi tidak pedulil siapa yang memakai, bagaimana cara memakainya. Itu berbahaya karena masjid bisa digunakan hal-hal yang tidak bisa dibayangkan. Salah satunya ya radikalisme itu,” jelas Agus.

Bagikan berita ini:
3
3
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar