Kata PKS, Ahok Bakal Bawa Petaka Bagi PDIP

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi pilihan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama sebagai kendaraan politik, usai merampungkan masa tahanan. Ragam komentar bermunculan mengenai pilihan pria yang akrab disapa Ahok ini.

Salah satunya dari Direktur Pencapresan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suhud Alynudin. Dia mengatakan, bergabungnya Ahok bisa jadi membawa petaka bagi partai yang dinakhodai Megawati Soekarnoputri tersebut.

Umat Islam boleh jadi tak lagi menjadikan PDIP sebagai pilihan. Dengan kata lain, Ahok bakal menggerus perolehan suara partai berlogo banteng moncong putih itu.

“Saya kira seperti itu (bisa menggerus suara PDIP),” ujar Suhud saat dihubungi, Rabu (28/11).

Alasan dapat menggerus suara PDIP, karena masyarakat masih ingat betul mantan Bupati Belitung Timur itu mendekam dua tahun kurungan penjara akibat penistaan agama dengan mengutip Surah Al Maidah ayat 51. Kala itu terjadi aksi besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Aksi 212.

Aksi itu diketahui dihadiri oleh jutaan masyarakat. Mereka menuntut supaya Ahok dihukum penjara.

“Kasus Ahok terkait penistaan agama saya kira masih melekat dalam ingatan sebagian umat Islam. Hal ini saya kira faktor yang dapat menimbulkan resistensi dari sebagian besar umat Islam,” katanya.

Kendati demikian, Suhud mengaku tidak bisa melakukan mengintervensi keputusan PDIP soal Ahok. Adalah hak pribadi Ahok untuk berlabuh ke PDIP, begitu juga sebaliknya hak PDIP menerima atau menolak Ahok.

“Hak politik Pak Ahok untuk menentukan pilihan partai untuk menyalurkan aspirasi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat mengaku sudah bertemu langsung dengan Ahok‎. Pria kelahiran Belitung tersebut dikatakan Djarot, akan bergabung dengan partai berlogo banteng ini.

“Makanya dia (Ahok) bilang, kalau nanti saya masuk politik, saya akan pasti masuk PDIP,” ujar Djarot di kawasan Sleman, Jawa Tengah, Senin (26/11).

Lebih lanjut, Djarot mengatakan dalam pertemuannya tersebut, Ahok berkeinginan supaya pendukungnya bisa memberikan pilihan ke Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Sehingga Ahok tidak menginginkan pendukungnya yakni ‘Ahokers’ untuk golput. Karena selama ini PDIP selalu berada di garis terdepan dalam membela dan memperjuangkan Pancasila.

Sekadar informasi, kalau nanti Ahok memilih PDIP untuk tempat terbarunya, maka partai yang dimotori oleh Megawati Soekarnoputri adalah kendaraan politik keempat.

Pertama pada tahun 2004-2008 Ahok bergabung ke Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru. Setelah itu pada 2008-2012 mantan Bupati Belitung Timur ini bergabung ke Partai Golongan Karya (Golkar). Kala itu dia terpilih menjadi anggota Komisi II DPR.

Ingin meraih jenjang yang lebih tinggi menjadi kepala daerah di DKI Jakarta, Ahok pun memutuskan pindah dari Partai Golkar ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 2012-2014.

Namun di 2014 dia memutuskan keluar dari Partai Gerindra. Alasannya karena dia ingin fokus menjadi Gubernur DKI Jakarta. Pasalnya di 2014 silam kepala daerah diminta menjadi juru kampanye di Pilpres pasangan ‎Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. (gwn/JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...