Reuni 212 Dianggap Membangun Sentimen Agama

Kamis, 29 November 2018 00:07
Belum ada gambar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Aksi Reuni Alumni 212 yang akan dihelat pada, Minggu (2/12) di areal Monumen Nasional (Monas) mendapat penolakan. Penolakan yang datang dari kelompok Gerakan Jaga Indonesia (GJI), itu dianggap memiliki tujuan tertentu dan berkaitan erat dengan politik.GJI menilai, Reuni Alumni 212 itu sangat kental kepentingan politik dan tidak memiliki garis lurus dengan semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.”Justru berpotensi membangun sentimen agama dan solidaritas di kalangan umat tertentu untuk tujuan politik tertentu, yang dapat membahayakan eksistensi Indonesia sebagai negara dan bangsa merdeka yang bermartabat,” kata Ketua Umum GJI Budi Djarot dalam konfrensi persnya di Jakarta, Rabu (28/11).Disinyalir, aksi Reuni 212 itu ada hubungannya dengan gerakan politik ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang sudah dibubarkan oleh Pemerintah beberapa waktu lalu, lantaran mengusung ideologi khilafah yang bertentangan dengan Pancasila.”Buat kami keliru kalau ada anggapan bahwa aksi Reuni 212 hanya reuni biasa tanpa ada agenda politik di belakangnya. Ini anggapan naif dan berbahaya karena jelas-jelas nanti dalam aksi reuni itu akan muncul simbol atau yel-yel yang menyerupai gerakan HTI,” ucap Djarot.Dikatakan Budi Djarot, HTI dan sejenisnya bukanlah ormas biasa, tapi ormas politik yang menggunakan agama sebagai alat untuk memuluskan setiap kegiatan mereka.”Di negara kita ada partai yang beranasir agama tapi mereka berjalan sesuai konstitusi dan itu sesuai apa kata Bung Karno, yang kalau ingin muslimin berjaya maka duduki DPR,” ujarnya.Untuk itu, aksi Reuni Alumni 212 ini harus dilarang, agar paham khilafah tidak tumbuh di Indonesia. “HTI harus kita larang kemudian paham khilafah yang diusung HTI harus dihabisi,” tutup Budi. (***/Fajar)

Bagikan berita ini:
2
8
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar